Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘MyWords’ Category

suatu malam Ayah bertanya: cita-cita mu apa?

ku jawab: menjadi polwan. (namun setiap malam ku pandang langit dan bercita-cita menjadi astronot; dan setiap melihat ke halaman aku bercita-cita membuat program canggih sehingga pencet tombol dan halaman rumah bisa berubah mjd “sesuatu”)

itulah balada masa kanak-kanak ku… yang selanjutnya Ayah hanya berkata: sekarang selesaikan PR dan inget berdoa sebelum tidur. Ya, itulah kisah kami setiap malam… lovely moment, isn’t it? hingga akhirnya aku masuk SMA dan meninggalkan rumah dan melihat beragam dunia dan profesi 🙂

ended-up menjadi wanita karir ternyata banyak suka dan tentu ada dukanya. Aku ingin membahas “duka” yang aku sebut sebagai CHALLENGES. Namun sebelum lebih lanjut, ada beberapa hal yang perlu diingat ketika memutuskan menjadi wanita karir (baca: wanita karir berprestasi):

  • Wanita karir adalah manusia. Jadi kalau laki-laki yg baca tulisan ini maka bayangka diri anda menapaki karir dan seperti itulah wanita karir; sama spt anda.
  • Wanita tetaplah wanita. Jadi tetap ada hak dan kewajiban sesuai kodrat dan tujuan dilahirkan sebagai wanita
  • Lokasi tempat tinggal dan culture ternyata sangat berpengaruh; meski katanya sudah global… namun tetap local memberi peran yg besar

so, ketiga hal ini semua memberi CHALLENGES yang besar; baik dalam hal mengelola tuntutan kantor, tuntutan keluarga, tuntutan budaya, dan tuntutan diri sendiri. then, apa yang harus dilakukan? apakah pasrah menyerah tanpa inisiatif (1), atau melawan dunia (2), atau kooperatif terhadap ketiga hal tersebut di atas (3)?

aku memilih opsi ke-3, kooperatif!!

kalau direnungkan, berat sih nomor tiga itu… tapi aku yakin semua ada solusi. sesuai tulisan sebelumnya (Terimakasih Tuhan), Beliau sangat baik ngasi semua kesempatan; jika ada isu, pasti Beliau sudah menyediakan solusi. tinggal aku bisa mengerti clue-nya atau tidak (mirip waktu pramuka jawab teka-teki sandi yg macem-macem itu). ya, I am a scout girl anyway hehe.

langkah yang aku lakukan utk opsi ke-3:

  1. mengenali nafas. bagiku, dengan mengenali nafas/merasakan nafas/mengikuti aliran nafas… maka pelan-pelan aku bisa mengenali diriku. oooh, ternyata aku hidup; ternyata aku bisa nafas; ternyata aku memiliki organ2 yg dilalui darah; ternyata aku wanita; ternyata aku kerja di sebuah perusahaan; ternyata aku diberi tanggung jawab; ternyata aku seorang anak; ternyata aku seorang kekasih; ternyata aku hidup di sini;  ternyata….. nafas itu sumber pemahaman akan banyak hal; tat kala lupa bernafas (apalagi berhenti) maka banyak hal yang sulit dipahami
  2. rajin mendengarkan nasihat. tidak ada salahnya mendengarkan, karena itu hanya nasihat dan belum tentu relevan dengan kehidupan ku… namun nasihat itu sumber “clue”
  3. banyak baca buku beragam genre. hindari membaca buku satu atau dua genre saja… namun selalu upayakan membaca apapun; biasanya disanalah “clue” bersembunyi
  4. menjaga “positive lense”. istilah lainnya: selalu berpikir positive… karena sesuai teori dan kata orang bijak: ketika kita positive maka akan muncul “clue”
  5. rajin ngobrol dengan diri sendiri. inilah sumber dari banyak “clue” karena alam bawah sadar lebih bisa melihat banyak hal ketimbang alam sadar kasat mata ini

setelah menjalankan 5 aktifitas itu pun belum tentu sukses menjalani opsi ke-3; but at least berusaha…. kata orang bijak lagi: keberuntungan mendekati dan menjelma pada sosok sosok yang semangat berusaha 🙂

stay positive, stay optimist, and enjoy… yeayyyyy!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

-putu-

 

 

Advertisements

Read Full Post »

Siang ini mengalun music online yg diputar secara acak by system. Yang pertama oleh Shawn Hook yang berjudul Reminding Me dan ada satu nasihat hari ini yg ‘reminding me’ untuk don’t take things for granted. Trus dilanjutkan lagu Praying oleh Kesha. Trus dilanjutkan lagu Please don’t Go oleh Joel Adams. Trus dilanjutkan lagu It’s Gotta Be You oleh Isaiah. By the way, Universe always kind to me… lagu, artikel, berita, gambar, iklan, good quote, etc… selalu mengingatkan ku untuk menjadi individu yg positive dan optimis 🙂

Nasihat yang aku dapat siang ini adalah ingatlah utk menghargai kebaikan orang lain meski orang tersebut tidak mengungkapkannya lewat kata-kata. Ya, ini nasihat yang selalu nonjok dan membuat termenung. Akhirnya, review diri sendiri menjadi kewajiban rutin yg harus dilakoni. Aku percaya: menjadi yang terbaik pasti merupakan hasil dari latihan dan rajin-rajin mengikuti ujian dan review terus-menerus… karena hidup ini adalah sebuah proses.

Ada masa aku dilingkupi orang yang SUPER sabar dan pantang menyerah untuk tetap menjadi SUPER sabar; terus ketika aku “lupa”, saat itulah aku membutuhkan nasihat yang mengingatkan bahwa “Putu, ingat: orang itu sudah SUPER SABAR dan please don’t take it for granted”. Okay…. I think so…. okay then… I’ll review myself. Review myself!!! again and again and again.

Hasil dari sekian kali review, memang ada pro dan kons dari beragam perspektif. Jika memandang dari perspektif Egoisme maka aku akan mendefinisikan sesuatu selalu berdasarkan pandanganku dan keinginan dan kebutuhan ku; apakah aku diuntungkan atau aku akan susah atau aku akan bahagia. Namun kalau dari perspektif “selalu Mengutamakan orang lain” maka aku akan mendefinisikan sesuatu selalu berdasarkan pandangan orang lain. Alhasil, mencari titik tengah adalah prilaku esensial; orang bijak menyebutnya dengan “kebijaksanaan”. Jadi kedua pihak harus bijak sehingga terjadi mutual benefit — sama sama bertoleransi utk kebaikan bersama.

So, how to “not take things for granted”  dan bias tercipta “mutual benefit” ?? (pertanyaan yg selalu mengiang di kepala)

Menurutku, beberapa cara yang bisa dilakukan dan sedang saya lakukan dan semoga tidak lupa utk dilakukan di masa depan:

  • Rajin mengucapkan “terimakasih”, for everything… anything from whoever.
  • Mendengarkan dan fokus
  • Memberikan yang terbaik dalam setiap situasi
  • Terbuka untuk diskusi
  • Being positive and optimist

Demikian kisah siang ini…. terimakasih banyak untuk semuanya. Now I wanna enjoy my luch ~ indomie goreng hehe 🙂

love

-putu-

 

Read Full Post »

Ku bangun pagi, ku bereskan tempat tidur dan bergegas bersiap tuk hari ini: hari Rabu yg penuh keceriaan dan kebahagiaan 🙂

Menelusuri jalanan kota Jakarta yg padat dan penuh semangat, kembali aku ngobrol dengan pohon dan angin mengenai kehidupan ini.

Aku: pohon, sering aku termenung dan ingin menjadi seperti dirimu… kuat dan sabar menghadapi semua prilaku alam

Pohon: hmmm… sesungguhnya aku juga ingin sepertimu, mjd seorang manusia.

Aku: kenapa?

Pohon: aku memang tangguh dan terlihat sabar menghadapi prilaku alam semesta. Namun, tahu kah dirimu bahwa aku sering menangis karena aku tidak bisa berteriak mengatakan “tidak” ketika mereka menyakitiku… memaku diriku… memangkas rantingku… memetik buahku… dan aku tidak bisa berlari berpetualang seperti dirimu

Aku: baik pohon. tapi boleh kah aku belajar darimu sehingga aku bisa kuat dan sabar sepertimu?

Pohon: dengan senang hati 🙂

Kembali angin sumilir menerpa wajahku dan otomatis ku tersenyum simpul. Angin… dirimu selalu menemaniku dan menyapa kesendirianku. Angin hanya tersenyum dalam hembusan lembut tanpa wujud 🙂

Aku, pohon, angin… semua merasa tidak sempurna karena memang kami tidak bisa sempurna seperti yang kami bayangkan. Yang bisa kami lakukan adalah belajar satu sama lain… pohon belajar utk aktif “protes” dan “berteriak” — seperti diriku yg suka ngomel dan teriak-teriak. Angin belajar tersenyum — seperti diriku yg suka senyum. Aku belajar kuat dan sabar dari pohon… belajar untuk halus dan keras seperti angin.

Waktu aku kecil, sesungguhnya aku tidak tahu istilah “sempurna”; namun seiring berjalannya usia dan aku mulai belajar mengenai satu hal-dua hal- tiga hal- dan banyak hal; akhirnya aku men-design sebuah gambar yang aku sebut “sempurna”. Meski sesungguhnya aku tahu kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Contoh misalkan: sempurna versi Tuhan itu di level 10 yang berdasarkan hukum alam, nah… versi sempurnaku ada di level 6 karena berdasarkan hukum idealism dan otak kiri. Ini pun belum tentu bisa aku realisasikan.

Singkat cerita, semua design yang aku buat adalah aspirasiku tuk alam semesta; in case ada yg matching dengan rencana alam. Namun, hari ini aku pun merasa sempurna:

  1. Aku bangun dengan sehat dan masih bernafas dan tersenyum
  2. Aku punya air utk diminum dan utk mandi
  3. aku punya dupa utk sembahyang
  4. Aku punya sepatu yg relevan utk ke kantor dan baju yg sudah di setrika dan siap pakai
  5. Aku punya uang utk bayar ojek ke kantor dan beli sarapan kue pastel idolaku
  6. Aku bisa menghirup udara dan merasakan angin… menyapa pohon sepanjang SCBD
  7. Aku bisa selamat sampai di kantor dan hanya telat 3 menit
  8. Aku bisa sarapan sambal ngopi Kopi Asiang – Pontianak… yeayyyy; plus aku bisa meraciknya dengan pas (air termos 200 ml + 30 second di microwave)
  9. Aku bisa melihat pegawai yg tersenyum ramah, penuh optimism, dan positive
  10. Aku bisa nulis blog ini dengan lega… karena kerjaan bisa di handle dengan baik
  11. Aku ada wi-fi sehingga bisa akses internet dengan baik
  12. Aku dilingkupi oleh orang-orang yang menyayangiku… orang-orang yang dengan sabar mendengarkan semua aspirasiku; bahkan di tengah malam gelap gulita

 

So, apapun itu, mungkin inilah yg disebut kesempurnaan utk-ku; meski out of my design time-frame. Namun mungkin inilah design alam semesta. Secara alam semesta juga sepertinya menganut konsep mis-match 🙂

-putu-

Read Full Post »

Hari ini seorang sahabat menyampaikan request agar saya menulis mengenai “bagaimana mengelola keuangan pribadi dengan tetap melaksanakan tugas-tugas keagamaan”. Saya pun berpikir bahwa ini tema yang menarik, mengingat banyak orang yang sering bingung mengelola keuangan; apalagi dihadapkan pada kebutuhan keagamaan yang relative banyak juga.

So, here are some of my views dalam mengelola keuangan pribadi, semoga bisa memberikan ide bagi para pembaca:

  1. Membuat balance sheet keuangan pribadi. Untuk tahap awal, buat saja yang sederhana seperti berapa besar (a) gaji rutin setiap bulan (b) pengeluaran rutin bulanan (c) tabungan atau investasi bulanan (d) perkiraan keperluan adhoc bulanan spt biaya untuk odalan atau galungan atau nyepi (termasuk slot untuk dana punia). Secara teori umum, skema yang wajar adalah pengeluaran itu 30% dari pendapatan, tabungan atau investasi sebesar 30%, dan sisanya untuk adhoc
  2. Biasakan berpikir detail. Ketika bicara uang dan angka, tidak bisa dipungkiri harus berpikir detail sehingga skema pendapatan dan pengeluaran tetap bisa terjaga. Jadi, rajin-rajinlah melakukan review atas balance sheet di point (1). Sering kali kita harus merenung mengenai potensi pengeluaran sebulan kedepan bahkan tiga bulan kedepan. Istilah jaman sekarang adalah smart spending. Sebagai bayangan, saya selalu melakukan review 2 kali dalam sebulan, yaitu setiap tgl 27 (setelah gajian) dan tgl 10 (setengah perjalanan dari hari kerja menuju tanggal gajian berikutnya). Dengan demikian, apabila kita boros di 15 hari kerja pertama, maka kita harus sedikit mengencangkan ikat pinggang di 15 hari kerja berikutnya
  3. Santai. Hidup fleksibel dan apa adanya ternyata sangat mendukung kesuksesan pengelolaan keuangan. Jadi, jangan pernah terpaku hanya pada satu solusi yang membebani keuangan; namun biasakan selalu mencari alternative. Contoh: untuk ke pura biasanya naik taxi dengan ongkos PP (Sudirman – Rawamangun) bisa 100 ribu, namun dengan naik trans Jakarta maka bisa hanya 7 ribu. Contoh lain misalkan minum kopi, apabila biasanya beli kopi segelas di starbuck seharga 50 ribu, akan lebih murah jika beli kopi bubuk atau kopi sachet starbuck dan kemudian seduh sendiri
  4. Cerdas dalam memilih barang dan menggunakan produk Bank atau financial institution lainnya. Jangan lekas tergoda promosi yang menjerumuskan kita pada cicilan yang mungkin bisa mengganggu balance sheet. Pilihlah barang yang benar-benar dibutuhkan, dan cari toko yang menyediakan promo, termasuk promo dari Bank tertentu apabila menggunakan kartu kredit yang mereka terbitkan. Contoh: apabila anda penggemar sepatu Clarks, saat ini di Pacific Place – SCBD disediakan khusus Clarks store untuk barang diskon; plus banyak program cicilan dari Bank ternama. Selanjutnya, saat ini Bank sedang punya trend bermain di fasilitas “poin”, manfaatkanlah! setiap kita berbelanja dengan kartu kredit maka akan mendapat poin, selanjutnya poin tersebut bisa dipergunakan untuk berbelanja lagi. Namun, perlu saya ingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakan Kartu Kredit agar balance sheet tetap terjaga; jangan sampai bablas… 🙂
  5. Rajin berderma. Tidak ada ruginya kita berderma, karena ini sesuai dengan aturan universal alam semesta bahwa apapun yang kita miliki adalah titipan. Dengan demikian, saya sarankan untuk selalu menyediakan slot anggaran untuk ber-dana punia. Apabila tidak sanggup besar, maka cukup semampunya saja. Sebagai pengalaman pribadi, semakin rajin saya berderma untuk hal-hal yang tepat maka rejeki so far selalu mengalir; at least kebutuhan saya terpenuhi. Bentuk dana punia bisa bervariasi seperti memberikan punia uang atau pakaian ke pendeta, punia uang ke pura, membantu buku untuk anak-anak yang tidak mampu sekolah, sharing makanan ke pengemis, bahkan senyuman untuk orang yang sedang sedih merupakan sebuah derma yang sangat besar

Menurut saya, lima hal tersebut di atas sangat applicable dalam mengelola keuangan pribadi sehingga kebutuhan bersosial masyarakat dan beragama tetap lancar dan aman. Memang banyak teori yang canggih-canggih mengenai management keuangan, namun belum tentu kita bisa menerapkannya dengan maksimal apabila kita tidak disiplin; disiplin memonitor balance sheet, disiplin mencari alternative baru, disiplin update trend di pasar, dan disiplin terhadap komitmen pribadi (merupakan yang paling utama).

Demikian… semoga bisa membantu 🙂

love and peace,

-putu-

Read Full Post »

Terima kasih Tuhan :)

Sudah 34.5 tahun aku menghirup oxygen di sebuah planet yang bernama bumi. Banyak kisah yang sudah terjadi, ternyata itu sebuah scenario yang sudah di design sejak dahulu kala; bahkan sebelum aku berwujud sel. Semuanya berjalan as designed dan membuatku bertanya “so, what’s next”

Jika tanpa design, mungkin aku sudah lama meninggalkan planet ini… banyak peristiwa terlampaui dan aku masih selamat.

 Waktu kecil, karena berkat-Nya aku “gagal” terlindas bus; karena berkat-Nya aku masih sehat sehabis jatuh dari pohon; karena berkat-Nya aku masih berjalan setelah sekian banyak pengalaman sakit kaki; karena berkat-Nya aku masih berpikir dan menulis untuk menyampaikan aspirasi dan opini tentang planet ini dan sang penciptanya; karena berkat-Nya aku masih menyapa mereka yang aku lihat, mereka yang mengeluarkan suara dan di dengar oleh telingaku, mereka yang menyentuh penuh sayang; karena berkat-Nya aku masih mengunyah nasi setelah banyaknya isu terkait gusi dan gigi yang aku alami; karena berkat-Nya aku masih berjalan dan makan normal setelah sekian banyak sakit perncernaan yang aku alami; karena berkat-Nya aku hidup bersama orang tua yang memahami liarnya duniaku; karena berkat-Nya aku menyaksikan bagaimana proses untuk meninggalkan planet ini oleh kedua nenekku dan ayahku; karena berkat-Nya aku masih survive di dunia kerja dan lingkungan yang katanya kejam; karena berkat-Nya aku belajar martial art, agama, IT, Akuntansi, Risk, Treasury, Finance, dll… karena dengan semua itu akhirnya aku memahami pola-Nya; karena berkat-Nya aku mencintai; karena berkat-Nya aku masih menerima cinta dari makhluk yang ada di planet ini.

Begitu banyak pertolongan yang Dia berikan agar aku tetap hidup sesuai design-Nya. Ntah apa yang akan terjadi lagi; entah rencana apa lagi yang masih ada dalam logbook-Nya. Dia sangat baik karena memberi kesempatan kepadaku untuk menyampaikan aspirasi dalam doa; selanjutnya Dia akan me-review dan menyampaikan apakah aspirasiku disetujui atau tidak. Jika Dia setuju dan sesuai dengan design-Nya maka pasti akan segera disetujui. Namun jika masih perlu banyak pertimbangan maka akan banyak proses yang harus aku lalui untuk persetujuan tersebut; bahkan harus disertai pembuktian dan subsidi silang agar design awal tidak terganggu.

Apa pun, sekecil apa pun, yang sudah aku lewati… semua itu sebetulnya hal baik (meski secara kolegeal sering dianggap tidak baik). Logikanya, Dia sangat baik maka apa pun yang Dia berikan adalah sebuah kebaikan; apapun yang aku lalui memang itu hal baik untukku untuk pemenuhan design-Nya. Setiap kali ragu, aku bebas menyampaikan aspirasi dan bertanya pada-Nya; any time any where. Dia menjawab lebih cepat dari dari whats-app atau telpon canggih; namun Dia juga bias menunda lebih lama dari waktu perjalannya sloth.

So, hal dasar yang aku lakukan sembari jalan adalah bekerja dengan baik; berdoa dengan baik; tersenyum; yakin bahwa semuanya adalah proses untuk yang terbaik; belajar; menulis; olah raga; berusaha melakukan apa pun yang bisa aku pikirkan dan lakukan dengan sebaik mungkin yang bisa aku lakukan

-putu-

Read Full Post »

Happy birthday 24 january

42 years gone with stories behind… baby cried in the middle of the mist… in one of mythical lakes… in one of the most beautiful unique islands. Parent called him made sudarma.

day by day… year by year… life taught the boy tough life which no one experienced before…. he survived… he learned the meaning of life… the purpose of his existance… and the beauty of being a human.

love is his way of life… loving other creatures is his passion… to be loved is his destiny.

Happy birthday… my God always bless you with happiness and good fortune 🙂

Dedicated with love for bli danu dharma patapan ♡♡♡

-geg putu-

Read Full Post »

Jakarta, is capital of Indonesia which previously named Batavia.

 

Like other capital city, Jakarta just like wall mart; any kind of things are available; just depend on your money and way of life.

It’s been 12 years I was digging this unique town, and I found it’s getting interesting and become one of city I love most (the other are Bali and Tokyo). Why? Cause this city so complicated but there easiness inside; just like green tea 🙂

 

Once upon a time, I was sitting by the old lady whom told be about the old Batavia:

“Putu, it was rice field anywhere: along Kuningan and Gatot Subroto street, also where all those exclusive sky scrapers build was rice field. And someone told me, that someday Batavia gonna be city of light; there no more rice field… But a never sleep city.”

 

What she told me are very true, cause I couldn’t see rice field anymore (today, 3rd of august 2013) and Jakarta is full of light.

 

Jakarta recently is different with the old days, it’s full of challenge now. On daily basis, everybody wake up early – hurry for the deadline – lunch fast – hurry for the train – back home late night – full of tiredness; but today I just feel so different…. Might be because Idul Fitri holidays (1 week day off) just started.

 

This morning I walked out and faced the empty street; just one or two walker… The air so fresh… I could breath freely… I don’t have deadline to catch up… I can walked or drove anywhere without facing any traffic jam. What a lovely Jakarta.

 

Enjoy! 🙂

 

-putu-

Read Full Post »

Older Posts »