Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2019

Selamat pagi…

Matur suksma wie… πŸ€—

Wie, juga, tetaplah menjadi baik sampai akhir πŸ₯°

πŸ’“putuπŸ’ž

Read Full Post »

Alkisah lipstick

Meski saya tomboy, namun sejak mengenal benda di toko, selalu nagih beli kutek dan lipstick. Si ibu pusing…. πŸ˜…

Seiring berjalan waktu, lingkungan dan aturan sekolah relatively mendorong gaya tomboy saya. Namun, bawaan orok itu gak bisa dihilangkan…. ntah bumi dari bulat jadi datar dan bulat lagi, kegemaran akan kutek dan lipstick tetap terdepan. Ditambah lagi…. hmmm… ada mbok wayan A dan bli mangku yang tak lelah2 mendorong saya utk merealisasikan aspirasi hehehe

Alhasil…. kutek, lipstick, dan parfume menjadi penambah kebutuhan primerku. Dengan demikian prasyarat menjadi kebutuhan primer pun ditetapkan. Banyak mencoba lipstick, khususnya yang ramah bibir. Akhirnya beberapa tahun terakhir memutuskan berlabuh pada YSL.

Juga, YSL ini sering punya edisi limited dan local promo di masing2 negara, sehingga menambah keunikannya. Dari sisi kualitas lipstick, saya merasa cocok karena tidak beraroma keras (nyaman bagi hidung saya yg sensitif aroma), tidak berasa yg berarti (nyaman untuk lidah yang sensitif rasa), ramah dengan bibir sehingga warna alami bibir terjaga dengan baik, dan warnanya beragam shg cocok dengan kesenanganku.

Dari sisi harga, sesungguhnya berbanding lurus dg kualitas. Di Indo dan Singapore gak jauh beda harganya… di angka 400 an ribu juga. Cuman di luar negeri sering ada diskon. Kalo di Jakarta diskon kosmetik adalah yang paling susah ditemukan.

So, dari beberapa tahun terakhir… baru nemu 2 edisi unik n limited untuk tutupnya. Spt gambar berikut:

Jadi…. yang penting ketika memilih lipstick adalah

  1. Keramahan pada kulit bibir
  2. Bahan baku lipstick
  3. Aroma…. jgn sampai lipstick aromanya bikin mual
  4. Warna yang disesuaikan dengan warna diri
  5. Harga

Demikian…. 😊

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Kopi padaku β˜•πŸ˜€

Ada kala orang tidak bersedia meminum kopi (khususnya kopi hitam) karena khawatir pengalamannya terulang, spt tidak bisa tidur, mual, diare, sakit perut, dan yang lainnya. Alhasil, mereka belum menikmati kenikmatan secangkir kopi.

Padaku, ternyata kopi memberi dampak yang terbalik, yakni relaksasi… tidur lebih nyenyak…. dan lebih sehat.

Slogan memang benar: manusia unik dan berbeda2 πŸ‘ŒπŸ˜

Padaku, guna mendapatkan khasiat kopi yang disebutkan orang-orang, maka aku akan:

  1. Menyeduh kopi hitam dengan air panas 100Β°C
  2. Minum kopi selagi panas dengan berteman kue untuk stabilkan lambung. Ingat, kopinya tanpa gula
  3. Usai minum kopi, duduk relax sejenak dan tarik nafas pelan…. dan tidur sejenak sekita 5 s.d 10 menit
  4. Bangun dari tidur relax dan nyenyak, tarik nafas dengan teratur, smile to the world… and ready to fulfilled the whole day with meaningful activities πŸ™πŸ‘ŒπŸ™‚

Demikianlah kisah Kopi padaku…. sama spt sekarang: segelas kopi hitam habis, relax tidur sambil nonton natgeo, dan ngetik artikel sambil merem2 β˜ΊοΈπŸ˜…

Have great Sunday!

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Tetiba melihat hal ringan tapi menggelitik, yaitu sebuah potongan video yg viral tentang seorang ibu memarahi pacar anaknya. Cowok anaknya itu adalah tukang ojek. Ibunya misuh-misuh gara-gara doi tukang ojek… wis pokoke tukang ojek ndak diterima sebagai calon mantu.

Ternyata itu potongan video clip Denny Caknan = https://youtu.be/GMGorTPd5fg

Hehehehehehe πŸ˜πŸ˜€

Namun yg membuatku tergelitik adalah…. what is wrong dengan profesi tukang ojek? Apakah yang dipermasalahkan dari konteks penghasilan, ketidakstabilan, atau malah ada analisa jauh hingga merambat ke ranah behaviour manusia.

Jika semua hal tersebut dipermasalahkan maka semua manusia dengan apapun profesinya akan memiliki kemungkinan menjadi sebuaah persoalan.

Pernah suatu masa aku bertanya pada bapakku: Pa, ingin mantu seperti apa?

Jawaban sederhana keluar: orang yang mencintaimu dan cocok dengan dirimu.

That’s it. πŸ˜€β˜ΊοΈπŸ˜

Bapakku sangat paham diriku dan dengan didikan Beliau aku akhirnya merasa tergelitik dengan kisah di video clip tsb.

Masanya sudah tiba dimana kita perlu memandang sesuatu di ranah yang lebih fundamental. Fundamental dalam konteks berkelanjutan dan sifatnya memang mendasar. Dengan demikian, hal2 yg bersifat material akan dapat dicerna dengan lebih mudah, tanpa harus memunculkan konflik.

Ketika diajarkan hal2 yg lebih mendasar, contoh: tujuan dilahirkan, atau pemahaman bahwa lahir dan mati sendiri, atau menjadi sosok mandiri adalah wajib…. maka ketika aku memutuskan memilih seseorang maka aku merasa sangat perlu melihat seseorang secara komprehensif (duniawi dan rohani). Jika rohaninya kaya, meski secara duniawi terlihat biasa saja… maka keputusanku sendiri yang akhirnya kuambil setelah merenungkan semua aspek. Perihal konsekuensi, itu sudah sewajibnya aku jalani.

Jadi…. meski lagunya Denny terdengar ringan, namun sesungguhnya banyak hal yg perlu disimak dan dijadikan pelajaran/renungan.

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

The night and u

Walking on the alley

Night is just a night

Stars clink as far far away friends

Wind whispers your name….

I looked into the sky

And took a deep breath

Feel your sense

Deep inside my heart

I feel Life…. night and day

That what people call

Me… to me…. Life is u

U… the holy soul

Who always be my keeper

Be my light

Be my laugh

Be my smile

Distance just a measure….

Cause u always be here (as u said, as i feel),

Inside my heart and mingling with my soul

My gratitude for my keeper, the holy soul… wie danu πŸ₯°πŸ€—

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Why “ordinary balinese” ?

When I looked into my social medias, mostly I represent myself as ordinary balinese (small “o” and “b”). When I checked others, so many Balinese represent themselves as ordinary balinese.

Why?

The answer is simple: cause we are ordinary balinese πŸ˜ŠπŸ™

Then I have been thinking, why we really enjoy telling the world that “we are ordinary balinese”.?.

Actually, being a Balinese is something that I questioned about when I was kid. Why I born here as Balinese?.! Then my father said: it all related to Karmic cycle, perhaps you have duty in here or something else, so you born as my child.

Balinese in fact, has a strong value to proud of. Value about being a living thing. When I live a very traditional Balinese way of life, I found so much original value of being a Balinese; as an ordinary balinese.

Somehow I thought about “what kind of person when being non-ordinary balinese” ?

Hmmm… my view always directed to the value. When we are not living the balinese value whole-heartedly, then at that moment I call anyone as non-ordinary balinese. Seems like similar with context “real balinese or not real in term of engagement with the balinese’s value”.

Being an ordinary balinese, we need willingness to understand the meaning of life, because the Balinese value is very simple and basic. But in this modern world, sometimes somehow… we just cannot understand the basic knowledge; we directly jump into temporary fanciness.

So, let’s learn our core values and be just an ordinary person… so that’s gonna encouraged us to learn other valuable things more and more πŸ™πŸ˜Š

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »