Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2019

Pembayar, eksekutor, perusak hasil Pajak

Beberapa hari ini saya merasa hasil kerja keras saya “terzolimi”, karena banyak taman, pembatas jalan, mobil keamanan, pagar gedung DPR, dan fasilitas umum lainnya yang rusak.

Direnung-renung…. saya kerja dari jam 7.30 s.d 4.30 pm/am, utk kemudian dapat penghasilan, selanjutnya dikenakan PAJAK guna membangun fasilitas tsb. Kemudian, ada pihak2 yang mungkin TIDAK ADA KONTRIBUSINYA ke pajak tersebut, tiba-tiba merusak fasilitas umum tsb.

Apakah kami para pembayar pajak boleh demo balik dan nagih ganti rugi ke “perusak” fasilitas umum tersebut ??????

Analogous yg sama dengan siapapun yg eksekusi pajak untuk hal-hal yang tidak relevan. Apakah boleh kami kontributor pajak nagih balik???

Rasanya sih sulit, wong makan aja mungkin masih butuh support…. tapi kalo boleh maka akan sangat fair, minimal kerja keras kami untuk menghidupi negeri ini bisa terganti-rugikan.

Demikian saja pemikiran kali ini…. setelah mabuk gas air mata, dan setelah pusing menelaah logika para “perusak” tsb. Kesimpulan: saya belum mampu menelaah logikanya… mungkin krn saya terlalu bodoh dan terlalu sibuk bekerja untuk bayar pajak demi menghidupi negeri ini.

Advertisements

Read Full Post »

Kebiasaan belajar… πŸ™

Belajar, ternyata sebuah aktifitas yang perlu dibiasakan. Belajar beragam hal, apapun itu.

Di hari Tilem kali ini, ku ingin menuliskan kebiasaan belajar mengenai Ketuhanan atau hal-hal terkait kesucian.

Waktu kecil, tinggal bersama nenek adalah pengalaman yang menyenangkan. Salah satunya karena Beliau selalu bercerita. Ketika hari suci, Beliau akan bercerita banyak tentang sesajen dan peruntukannya. Kapan harus sembahyang. Untuk siapa kita berdoa. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Termasuk cerita-cerita terkait kesucian lainnya.

Ya, memang itulah kehidupanku, karena nenek dan kakek adalah dua orang yang sederhana namun menekuni jalan kesucian.

Ketika Beliau wafat, giliran Bapak yang banyak bercerita hal-hal tersebut. Kebiasaan bercerita hal-hal kesucian tidak pernah putus.

Ketika ku pergi meninggalkan rumah untuk merantau, Bapak menitipkan Bhagavad Gita sebagai bekalku untuk terus belajar. Intinya: kebiasaan belajar tidak boleh putus.

Kebiasaan membaca Bhagavad Gita menjadi salah satu ritual hidupku sejak aku merantau. Bhagavad Gita menemaniku saat mimpi buruk, menenangkanku saat kekhawatiran mendera, dan membuatku tersenyum penuh syukur.

Waktu berlalu, kebiasaan belajar dan membaca menjadi value tersendiri bagi hidupku. Jika tidak belajar atau tidak membaca, maka akan terasa ada yang kurang. Itulah dampak dari “kebiasaan”. Jadi, hati-hatilah membangun kebiasaan πŸ‘Œ

Mendukung kebiasaan ku, akhirnya Bli Mangku Danu pun memberikan tips yg mampu meningkatkan efisiensi dalam kebiasaan belajarku. Wie Danu selalu memberikan clue dan PR sehingga aku bisa belajar lebih baik dan lebih efektif.

Kebisaan belajar…. khususnya belajar dan membaca hal-hal terkait kesucian menurutku sangat penting, karena dengan cara demikianlah pada akhirnya kita mampu memahami kehidupan ini dengan lebih baik. Juga, pada akhirnya mampu membuat kita siap menjalani setiap kehidupan.

Semoga kecerdasan datang dari segala arah dan kita selalu mendapatkan karunia untuk membangun kebiasaan belajar… khususnya belajar kesucian. Harenam Harenam Harenam πŸ™πŸ™

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Film horror, ok or not ok ?

Di rumah, tontonan horror adalah favorite, khususnya bagi saya dan anak2 kecil di rumah.

Trus ibu pun protes.

Trus pertanyaannya: apakah film horror ok or not ok untuk ditonton, khususnya untuk anak2 ?

Jawaban saya ke ibu: tergantung anak yang nonton.

Jadi, keep in mind ya… TERGANTUNG MANUSIA YANG MENONTON.

Film itu bagi saya adalah salah satu cara mengenal kehidupan, oleh karena itu perlu kecerdasan dan kewarasan dalam memilihnya; baik film drama maupun horror.

Film horror mengingatkan kita bahwa memang ada mahkluk tak tampak yang selalu hidup juga di sekitar kita.

Untuk anak kecil, saya sendiri akan melakukan assessment kepada anak tsb, apakah dia siap menonton level horror tertentu atau tidak. Apabila dia sudah “ngeh” mengenai kehidupan mahkluk lain tsb, maka pelan-pelan perlu diajarkan (bisa lewat film) mengenai kehidupan mahkluk tersebut. Selain itu bisa juga lewat cerita atau tutur satua.

Memahami kehidupan semua mahluk bukan perkara mudah, dan butuh kesabaran luar biasa.

Spt kata Bli Mangku, ketika masih menganggap kuburan itu menyeramkan maka masih perlu banyak belajar kesabaran dan ketabahan.

Lama ku pikir… akhirnya aku setuju dengan Bli Mangku. Wie, you are always right πŸ‘ŒπŸ‘πŸ˜Š

Jadi, meski sering perasaan dag dig duer ketika bertemu mahluk lain…. baik manusia maupun yang lain; hal pertama dilakukan adalah INGAT TARIK NAFAS !!!πŸ˜€πŸ˜€

Pada dasarnya, yang membuat jantung mau copot, itu tidak hanya bertemu mahluk halus… tapi bertemu manusia kasat mata juga bisa, bertemu anjing galak juga sama, dan bertemu mahluk lainnya yg tidak sesuai toleransi kita maka akan sama yaitu mampu membuat lutut gemetar dan sesak nafas dan keluar keringat dingin.

Jadi, horror is about how to manage our pshycology…. oleh karena itu perlu dilatih sejak dini hehehehe

Nonton film horror oleh anak-anak memang perlu pendampingan, sehingga horror yang ditonton mampu membuat pemahaman akan kehidupan bisa lebih baik.

Bisa jadi, one day, apa yang sekarang disebut horror krn mahluk halus… nanti saat dewasa dianggap hal biasa karena anak2 sudah mampu berkomunikasi dengan semua isi alam semesta. πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Don’t crack under pressure

Dahulu, ketika melihat kalimat itu… feel so true and fit with me. Kemudian baru sadar bahwa slogan itu dipakai oleh salah satu merk jam tangan terkenal Tag Heuer.

Lama bertanya pada diri sendiri, kenapa dia pakai slogan itu ya?

Apakah dia ingin encourage konsumennya agar “don’t crack under pressure”, ataukah mereka ingin menyampaikan bahwa produk Tag Heuer itu “do not crack under pressure”… hmmm… πŸ€”πŸ€”

Ketika saya mulai beranjak dewasa, ada beberapa hal yang menjadi kebutuhan utama saya, salah satunya jam tangan. Ketika sesuatu menjadi primary need maka ada parameter-parameter yang perlu diperhatikan. Ternyata… saya menemukan parameter-parameter tsb ada di dua merk, yaitu Omega dan Tag Heuer.

So, merujuk pada kebutuhan tersebut… akhirnya kami membeli keduanya.

Back to slogan.

Ketika melihat Tag Heuer yang akhirnya kami pergunakan, itu memang secara produk terlihat simple, praktis, ringan, dan fungsional. Fungsional disini saya artikan dia relatively cocok dipakai di beragam kesempatan. Ketika di medan terbuka yang “ganas”, dia beneran tangguh. Ketika di medan terturup untuk acara casual atau formal, dia terlihat anggun dan cocok dengan pakaian casual atau formal.

Kemudian saya merenung lagi terkait slogan itu…. apa ini yang dimaksud dengan “don’t crack under pressure” πŸ€”πŸ€”

Kesimpulan saya mengartikan slogan tsb adalah:

  1. Secara product quality, Tag menjunjung nilai bahwa produknya “do not crack under pressure”, entah karena alam ataupun situasi sosial
  2. Pemakai Tag juga diharapkan “don’t crack under pressure”, shg harus tangguh menghadapi dunia…fisik dan mental harus tangguh. no need to worry cause Tag will accompanying as always 😁

Selanjutnya, ketika Tag dipakai oleh orang yang memiliki nilai yg sama dengan slogan tersebut, maka utilisasinya akan sempurna. Karena cocok dan klop…. ☺️

Live life and don’t crack under pressure!!

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Milenial ala kami – makan ala kebun… πŸ€“

Ketika ngunyah krupuk singkong buatan ibu, tiba-tiba keinget kisah masa kini tatkala ada kalimat “anak milenial adalah anak micin”.

Ada benernya juga sih… krn makanan yg tersedia di pasar2 yg dijangkau anak2 didominasi micin. Namun pas pulang ke rumah…. akhir2 ini kehidupan anak milenial serasa berbeda.

Berawal dari si adik kecil yang “ketagihan” kue tradisional Galungan dan krupuk buatan mbah-nya. Makan godoh bisa sepiring habis… buah boni bisa satu kresek buat bekel nonton. Terus semua orang tetep ketagihan makanan ala kebun. Terus terus si adik sangat enjoy minuman herbal, mulai dari teh daun… madu… kopi… dan buah-buahan hasil kebun.

Dan saya pun semakin ketagihan juga dg makanan kebun dan kampung. Ya ini contohnya: kerja sambil ngunyah krupuk buatan ibu… singkong dari kebun dan no micin; tapi wenak rek…. πŸ˜€

Ketika dipikir-pikir…. pikiran melayang ke konsep reinkarnasi. Meski banyak makanan micin di pasaran, namun roh yang reinkarnasi pada seseorang ternyata mempengaruhi kegemarannya dalam hal makanan. Jika di kehidupannya terdahulu seneng godoh a.k.a pisang goreng… pas lahir kembali, tiba2 makanan favoritnya godoh juga. Selain itu, lingkungan orang tua disekitar…. jika yang tersedia di dapur banyak makanan ala kebun maka yang dimakan ya makanan tersebut hehehe

Ini hanya pengalaman saya pribadi. Namun mungkin orang lain juga pernah mengalami hal serupa.

So, mari nikmati makanan alami ala kebun… enak sehat bergizi πŸ‘πŸ€“

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Ketika kejutan berkumpul… πŸ˜‘

Bagi penyuka “astral dimension”, kosakata yang sering didengar, dibaca, atau diucapkan adalah universe, conspire, guardian angel, be positive, be careful of your thought, be ready, new level of life, spiritual awakening, something will happen, stay positive, be kind, focus as lightworker… dan lain sebagainya.

Beberapa bulan ini secara marathon banyak kejadian yang terjadi, namun hari ini ada 4 hal terjadi dan membuat saya bengong, senyum, ketawa, mengkerutkan dahi, heran, dan teriak “alamak….. “.

Ketika direnungkan, keempat hal tsb merupakan jalan hidup yang sudah bisa diperkirakan. Tiga dari kejutan hari ini merupakan tiga hal yang saya sendiri cita-citakan. Namun satu hal lainnya adalah kewajaran sebagai manusia.

Satu hal tersebut adalah kabar seorang senior yang mendadak meninggal dunia. Tak disangka secepat ini…saya bengong, bingung mau berpikir apa. Namun inilah jalan kewajaran yang dipilihnya. Semoga Beliau damai dan berbahagia πŸ™πŸ™

Tiga kabar lainnya adalah kabar yg membuat saya berwajah πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘ hahahahhaha….. karena campur aduk antara happy dan pusing.

(1) Mulai dari tim saya yang akan resign karena dapat kerjaan yang dicita-citakannya di tempat lain… basically saya menyiapkan dia untuk moment spt ini. Namun koq ya moment itu tibanya sekarang, tatkala aku membutuhkannya sangat. (2) Tim lainnya hamil lagi, akhirnya….!!! selama ini saya mendorong dia untuk hidup sehat dan memaksanya latihan yoga agar sehat dan kuat, sehingga bisa hamil lagi. Tapi koq ya moment nya tiba sekarang…. (3) Bli Mangku tetiba nelp dan bercerita banyak kisah yang membuatku mengerutkan dahi, kemudian bingung, dan ngikik pada akhirnya…

Oh my God… thank you for all of these. Semua sudah ada jalannya masing-masing. Semoga semua mahkluk hidup berbahagia dan saya bisa selalu mensyukuri semua ini.

Tetiba saya merasa spt tempe penyet…. dipenyet, diuyek-uyek, disiram cabe, pedes… tapi enak ☺️

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Balada anak rantau – ala diriku

Menurutku, anak rantau = pejuang. At least untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang dicintainya.

Menjadi anak rantau memang betul membutuhkan kemampuan untuk :

  1. Sabar
  2. Tekun
  3. Irit ~ pandai mengelola keuangan
  4. Mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan ~ kuat iman
  5. Toleransi
  6. Pantang menyerah
  7. Cerdas (baca: cenderung cerdik)
  8. Pandai melihat peluang dan situasi (bagi yang mampu survive hingga sukses menurut versi dirinya, karena sukses bersifat relatif)
  9. Teliti
  10. Bisa bergaul

Kira2 tersebut di atas adalah 10 hal utama yang menurutku menjadi modal anak rantau; khususnya anak rantau yang hidup sendiri di tempat yang multikultural, tanpa ada sanak saudara yang mengayominya.

Jadi, apabila ingin menumbuhkan 10 perilaku di atas maka mulailah untuk merelakan anak2nya untuk merantau. MERELAKAN, karena saya lihat banyak orang tua yang tidak siap melihat anak2nya merantau ala “pejuang”. Banyak orang tua yang ingin anaknya hidup di rantau selayaknya mereka hidup di rumah dengan cara menyediakan beragam fasilitas ala rumah dan lain sebagainya, sehingga cenderung lambat memperoleh value dari sebuah kisah “anak rantau”.

Ngomong2 orang tua, sering saya terbengong: kenapa orang tua kami semangat sekali mendukung dan mendorong anaknya merantau sejak kecil…. ??

Mungkin orang tua kami tahu bahwa dunia akan semakin kejam sehingga anak2nya harus mampu hidup mandiri, tangguh dengan caranya masing-masing, dan tetap mampu bergotong royong.

Pikiran apa juga yang sempat dipikirkan ayah saya ketika bicara: sini sini duduk sebentar…. Bapa mengijinkanmu pergi sejauh2nya yang kamu inginkan untuk menuntut ilmu dan mewujudkan cita2 mu; dimanapun di belahan bumi Indonesia, Amerika, Jepang, Eropa, Australia…. Namun kamu harus selalu ingat bahwa kamu punya tugas dan kewajiban untuk berbagi pada negerimu dan tanah kelahiranmu. Jadi, kemanapun pergi maka pada akhirnya setelah usai belajar kamu harus kembali ke tanah air. (Titik) ~~ jika sudah titik maka it means is a must 😱😁

Kalimat itu yang selalu terngiang di kepala sehingga menambah parameter dalam kehidupan saya sebagai anak rantau. Merantaulah sejauh yg kamu mau, tapi ingat tanah kelahiran dan negerimu.

Nice!!. Thanks Pa.

Jadi, kalau kita analisa behaviour anak-anak rantau, dikelompokan menjadi beberapa kelompok, maka kelompok-kelompok tersebut akan cenderung memiliki kepribadian yang mirip. Kemiripan mulai dari cara bergaul, solving persoalan hidup, fleksibilitas, dan beberapa hal lainnya yang pada akhirnya membuat anak-anak rantau ini seneng ngumpul dengan sesama anak rantau.

Dan…setelah 21 tahun merantau, menurutku apa yang dijelaskan bapakku di atas menjadi sangat penting dan relevan. Hal ini karena “merantau itu nikmat dan terus ingin explore tempat lainnya, terus menerus“. Sehingga banyak ada kisah anak rantau yang tidak kembali pulang ke tanah kelahirannya dan memutuskan menetap di dunia yang baru; untuk selanjutnya berpindah dan berpindah lagi.

So, menjadi anak rantau menurutku menyenangkan. Benar kata bapakku: dunia tidak seluas daun kelor.

Kesenangan merantau juga harus diimbangi kesenangan mencari solusi, karena setiap hari harus hidup sendiri dan banyak persoalan bermunculan yang harus dipecahkan sendiri.

Live life and enjoy

πŸ’“putuπŸ’“

Read Full Post »

Older Posts »