Feeds:
Posts
Comments

Archive for July 13th, 2019

Day 1: Eksplorasi Dockland – Melbourne

Jam menunjukan pukul 06.00 waktu Sidney dan kami mendarat di kota yang terkenal dengan opera teater itu, untuk selanjutnya pada pukul 09.10 kami akan tervang dari Sidney menuju Melbourne.

Nuansa kota Sidney pagi itu lumayan hangat dan seluruh peserta Australia Award Indonesia – Multifaith Senior Women Leader terlihat sumringah menuruni pesawat dan berlahan-lahan menuju ke area imigrasi. Seperti perkiraan kami, imigrasi penuh sesak dengan antrian manusia; baik yang memiliki passport Australia maupun passport dari negara lain. Secara umum perjalanan kami di imigrasi dan pengambilan bagasi berjalan lancar. Perjalanan mulai sedikit tersendat pada saat Ibu Suraya mengalami “random check” dan seluruh bawaan Ibu Aya diperiksa oleh pihak imigrasi; meskipun Ibu Aya tidak membawa barang-barang yang perlu di declare.

Dari terminal internasional, selanjutnya kami menuju terminal 2 untuk transfer domestik. Udara sumriwing menembus tulang dan pori-pori kulit tubuh… dinginnya…. kami melewati koridor di ruang terbuka dengan suhu 14°C (feel 9°C). Di terminal domestik gate 1 ternyata tersedia banyak tempat makan sehingga semua peserta dapat sarapan atau sekedar membeli minuman. Memang di bandara makanan relatif mahal yaitu untuk air mineral 600 ml sekitar AUD $3-4.

Penerbangan dari Sidney ke Melbourne terasa seperti “naik angkot”, mungkin karena kami semua duduk di kursi deretan belakang dan pilotnya sedikit heboh dalam menerbangkan pesawat. But so far kami enjoy dan tertidur pulas.

Melbourne, here we come!!

Fiuhhhh…. udara dingin menyambut kedatangan kami, suhu menjadi 9°C (feel like 4°C). Selanjutnya kami semua bergegas memakai thermal clothes dan memakai topi kupluk untuk menghindarkan kami dari kedinginan.

Ms. Yusria dan Rennie menyambut kami di bandara dan mengajak kami naik bus menuju ke ACD Apartment di Dockland. ACD kepanjangan dari Accomodation Corporate Dockland.

Lingkungan apartment merupakan area Central Business District (CBD) seperti SCBD di Sudirman – Jakarta. Konsekuensinya, hidup disini relatif lebih mahal dibandingkan daerah lainnya, khususnya terkait biaya tempat tinggal. Selayaknya CBD, disini semua tersedia dan dapat diakses dengan mudah 👌🙂

Setelah pembagian kamar, seharusnya kami istirahat, namun saya dan Mbak Nia dan Puan malah jalan-jalan menyusuri pinggir laut “waterfront” dan berjemur menikmati matahari. Kalau diamati, waterfront mirip pelabuhan kapan-kapal di Ancol, namun disini lebih rapi dan sepi. Selanjutnya kami mengunjungi ATM dan mencoba mengecek balance kartu master card dan ternyata setiap melakukan query di ATM maka akan dikenakan charge AUD $2.5 – 3.5. Mahal ya, renung kami. Alhasil kami batal melakukan inquery di ATM, kami langsung berbelanja saja dengan kartu master card yang diberikan. Untuk kebutuhan sehari-hari, allowance diberikan dalam bentuk business card (berfungsi spt debit card dan emoney) sehingga dapat dipergunakan untuk berbelanja, naik tram, maupun penarikan tunai di ATM berlogo mastercard.

Perihal toko dan mall di sekitar apartment, ternyata ada mall yang disebut “the arcade” karena formatnya mirip Citos di Jakarta Selatan. Jadi disana ada banyak toko dengan beragam merk, kemudian di tengah mall ada area tempat duduk santai bagi pengunjung. Bicara mengenai toko-toko disana, hari ini semua toko menawarkan diskon yang beragam dan khusus untuk pakaian winter harganya relatif jauh lebih murah dari Jakarta.
Salah satu contoh fasion winter yang membuat kami bengong dan merasa menyesal membeli di Jakarta adalah…. disini sarung tangan hanya seharga AUD $2.5 dan thermal shocks hanya AUD $6. Last month di Jakarta sarung tangan biasa saja sudah ratusan ribu harganya 😱🧐😅

Melihat kenyataan tersebut, kami semakin semangat eksplorasi dan menemukan toko “closing down” sales, yaitu toko akan diskon 50% untuk semua barang karena mereka ingin menghabiskan stok. Akhirnya saya pun membeli garam, black peper, bawang kering, black currant kering, dan biskuit dari sereal. Total saya belanja AUD $26 san cukup bayar AUD $13.

Setelah berputar-putar beberapa blok, kami baru sadar bahwa toko klontong asia ada di sebelah mintu apartment kami hahahahaha. Kami masuk kesana dan semua barang yang kami butuhkan sehari-hari ternyata dijual disitu; mulai dari tahu, indomie, mie korea, satur-sayuran, bawang putih, bawang merah, cabai merah nyonya, roti bolu, lapis legit, beragam sambal, dan lain sebagainya. Mata kami berbinar dan merasa sangat bahagia 😁😁

Jam menunjukan pukul 16.00 dan makan malam pertama kami dilaksanakan di Oscar Table dengan menu:

  1. Minuman: jus jeruk, jus apel, air mineral
  2. Makanan ringan namun mengenyangkan: chicken wing, meet bal, bakwan jagung, fish chip, roti garlic, daun-daunan. Untuk menu vegetarian, saya mendapat tambahan makanan berupa nachos
  3. Makanan penutup: churos dengan saus coklat

Overall, makanannya enak… meski rasanya kurang lengkap tanpa saus tomat dan saus cabe hehehe.

Usai makan malam, kami keluar restoran dan hawa dingin menyerbu menelisik tulang belulang; dan kami pun menyerbu penghangat ruangan…. suhu di luar saat ini 7°C (feel like 4°C).

Di kamar, aku sendiri kedinginan teramat sangat, sehingga pemanas ruangan portable aku bawa ke ruang TV dan stel hingga maksimal sehingga saya nyaman menonton film kesukaan.

Di luar malam sangat gelap, sinar rembulan sangat indah, pukul 20.00 serasa pukul 23.00 karena sepi dan dingin. Aku merasa seperti di Jakarta, Jakarta yang sepi 🙂

Have good night world….terimakasih untuk hari ini, semoga hari esok lebih baik dan semakin baik, sehingga kami dapat menjalankan program pendidikan dengan maksimal 🙏😊

♡putu♡

Read Full Post »