Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2019

Dodol Galungan

Hari Raya Galungan memiliki ciri khas yaitu sembahyang dengan dodol yang terbuat dari ketan hitam, santan, dan gula aren.

Dodol dimasak cukup lama untuk mendapatkan hasil yang bagus dan enak.

Hari Raya Galungan kali ini, pertama kalinya aku merayakan di luar negeri dan memang merasa aneh… khususnya karena tidak ada Dodol Galungan.

Bersyukur Bli Mangku menyadari hal tersebut sehingga membawakanku dodol sehingga aku dapat merasakan kenikmatan Galungan setibaku di Indonesia.

Dodol Galungan memilik variasi dari cara mengikat pembungkusnya yang terbuat dari kulit jagung. Di kampungku, tali pengikat terbuat dari tali bambu. Namun dodol kali ini talinya terbuat dari plastik.

Ketika nyeruput kopi berteman dodol, aku sangat menikmatinya karena mereka pasangan yang tepat. Pagi ini aku mendapat pelajaran dari dodol tersebut perihal usaha yang pantang menyerah

Dengan ikatan yang ketat, ku berupaya membuka ikatan dodol dengan penuh kesabaran meski membuat kuku sobek dan patah. Namun aku tetap berusaha…. akhirnya berhasil. Dodol ini enak sekali dan berhasil membuat saya mampu menjalani 5 jam kehidupan.

Bli Danu, matur suksma 🤗🤗

♡putu♡

Advertisements

Read Full Post »

Pesan ibu: selalu hormati keputusan orang lain

Siang ini aku semakin bersyukur menjadi anak ibuku.

Tatkala aku bercerita mengenai kehidupan dan kebingunganku akan misteri kehidupan terkait pemikiran/rencana yang disampailan oleh orang terdekatku… ibu hanya menjawab: kita sepakat dia orang yang baik, orang yang sangat bertanggungjawab, orang yang memiliki integritas tinggi, orang yang sangat peduli….dan ketika kita memahami dia secara utuh maka hanya satu hal yang boleh kita lakukan yaitu menghormati pemikirannya

Apapun alasannya, dalam praktek kehidupan, ketika kita memahami sebuah entitas dan mencintai dengan sepenuh hati entitas tersebut maka tidak ada istilah “memaksakan kehendak”, namun hanya ada “saling percaya dan saling menghormati”.

Jika kita belum mampu menghormati, maka kita belum cukup berani untuk melihat kebenaran secara utuh.

Jadi, jegeg harus berani melihat kenyataan… apapun itu, that’s all part of your life.

Meski otak blank, namun masih ada ruang untuk mengingat kalimat2 ibu. Ibu mengajarkan agar menjadi sosok yang jujur, tulus, apa adanya, dan berani menyampaikan kebenaran dengan benar.

♡putu♡

Read Full Post »

Finding: Someone we cannot live without

When I was a small kid, when I knew how to write, most of those notebooks consist of question “who am I ?”

That question was questioned by me to myself. Perhaps, people thought a bit weird when little kid ask that such question; but I feel OK and worth to ask. Then, step by step I answered that question.

In fact, my journey bring me to the understanding of the soul concept. And I find the answer of my question: I am a soul and old soul who live for centuries.

That answer bring me to the other question: what is the purpose of my birth? Why I was born?

Then my journey bring me to understanding of integrity concept ~ walk the talk.

When I live this life, there was Karma. Along the journey I met people and I build commitment. Those commitments going to develop “life’s promises” which absolutely needs to fulfilled.

Life brought me to a specific person, and that person was always accompanying me in every journey… and we built promise “to live every life together”. In fact, in every life we always looking for each other, don’t matter how many years we need… we were going to look to each other until we find each other. That moment is a moment when our life feel complete, and he is the one I cannot live without. We are together in this life, again.

Life is complicated and we keep trying to understand it. The journey of learning made us can see things in more comprehensive perspectives. We learnt to understand the negativity, as well the positivity. We learnt to be patient and be grateful; even for small bless. When with “someone we cannot live without”, the learning process became easier and encourage us to be patient. That is why finding someone we cannot live without is a very prominent matter in this life.

Universe, thank you so much for the clue and moment when I finally found Bli Mangku Danu and thank you for the clue that You had given to Bli Mangku so he finally found me…. after decades of our journey.

Bli Mangku, thank you so much for all of these… you are the one I cannot live without. Future is a life that we have to fulfill, and we’re going to make the best of it 🙏

♡putu♡

Read Full Post »

Day 2: keliling CBD Dockland ☺️

Saat ini rebahan di sofa sambil menonton film dan nulis blog serasa menyenangkan, ditambah lagi suhu ruangan yang hangat dan minum susu segar hangat.

Ketika melihat catatan di Samsung Health, ternyata hari ini saya sudah jalan kaki 13.600 langkah lebih. Lumayan hari ini saya dan teman-teman banyak jalan kaki mengelilingi beberapa tempat di CBD Dockland.

Pagi tadi, kami pengenalan tempat yang dimulai dari lokasi supermarket sehingga kami bisa berbelanja lebih murah, compare to toko di sekitar apartment. Di dekat supermarket ada juga factory outlet yang menjual beragam kebutuhan; mulai dari fasion hingga multivitamin yang menjadi favorit para turis. Untuk mencapai supermarket ini, dari The District Dockland bisa naik tram gratis no.86, 30, 35, dan 70. Atau bisa jalan kaki sekitar 15 menit (jalan kaki sesuai speed saya ~ 1 km/12″). Berikut lingkungan di sekitar The Spencer:

Kemudian ada hal menarik disini terkait perbankan yang membuat saya ingin survey ke penduduk sekitar. Awalnya menemukan gambar tulisan ini:

Saat naik tram, banyak sekali tulisan-tulisan nuansa serupa yang dipajang di publik area. Negeri ini meng-encourage dan stated secara clear arah pengembangan dunia perbankan-nya.

Selanjutnya ketika masuk ke pasar, Victorian Market, semua dagang makanan dan sayur mayur bisa menerima pembayaran dengan card yang mirip dengan credit card (mereka menyebut cash card). Salah seorang pedagang menjelaskan bahwa pembayaran dengan card bisa tanpa PIN jika dibawah AUD $100, namun jika pembayaran diatasnya maka harus pakai PIN 4 digit.

Aku merenung perihal regulasi itu… dan akhirnya saya diskusi banyak dengan pedagang tsb; khususnya perihal security transaksi. Dia bercerita jika bank disini akan monitor transaksi dan akan sangat concern jika tiba-tiba ada transaksi aneh spt transaksi split bill berturut-turut…. intinya Bank akan monitor detail transaksi all card holder.

Okay then…. keinginan untuk percepatan proses transaksi perbankan ternyata harus didukung seluruh sistem secara komprehensif.

Perihal pasar dan pedagang…. disini dijual beragam kebutuhan rumah tangga dan harga barang-barang disini rata-rata 50% lebih murah dari mini market di samping apartment. Jadi, lumayan hemat biaya hidup dengan berkorban sedikit waktu naik tram dan jalan kaki 👍☺️

Overall, hari ini banyak mengenal lingkungan sekitar…. dan juga, akhirnya saya menemukan starbuck disini hahahahaha

Tadi pada saat dinner, kami bertemu Rebecca dari Univ Deakin. Kami diajak dinner di Red Spice Road karena mereka banyak menyediakan makanan asia yang enak dan cocok di lidah

Sekarang saatnya rehat, semoga hari esok penuh makna, cause tomorrow is first day of school 🤓

♡putu♡

Read Full Post »

Day 1: Eksplorasi Dockland – Melbourne

Jam menunjukan pukul 06.00 waktu Sidney dan kami mendarat di kota yang terkenal dengan opera teater itu, untuk selanjutnya pada pukul 09.10 kami akan tervang dari Sidney menuju Melbourne.

Nuansa kota Sidney pagi itu lumayan hangat dan seluruh peserta Australia Award Indonesia – Multifaith Senior Women Leader terlihat sumringah menuruni pesawat dan berlahan-lahan menuju ke area imigrasi. Seperti perkiraan kami, imigrasi penuh sesak dengan antrian manusia; baik yang memiliki passport Australia maupun passport dari negara lain. Secara umum perjalanan kami di imigrasi dan pengambilan bagasi berjalan lancar. Perjalanan mulai sedikit tersendat pada saat Ibu Suraya mengalami “random check” dan seluruh bawaan Ibu Aya diperiksa oleh pihak imigrasi; meskipun Ibu Aya tidak membawa barang-barang yang perlu di declare.

Dari terminal internasional, selanjutnya kami menuju terminal 2 untuk transfer domestik. Udara sumriwing menembus tulang dan pori-pori kulit tubuh… dinginnya…. kami melewati koridor di ruang terbuka dengan suhu 14°C (feel 9°C). Di terminal domestik gate 1 ternyata tersedia banyak tempat makan sehingga semua peserta dapat sarapan atau sekedar membeli minuman. Memang di bandara makanan relatif mahal yaitu untuk air mineral 600 ml sekitar AUD $3-4.

Penerbangan dari Sidney ke Melbourne terasa seperti “naik angkot”, mungkin karena kami semua duduk di kursi deretan belakang dan pilotnya sedikit heboh dalam menerbangkan pesawat. But so far kami enjoy dan tertidur pulas.

Melbourne, here we come!!

Fiuhhhh…. udara dingin menyambut kedatangan kami, suhu menjadi 9°C (feel like 4°C). Selanjutnya kami semua bergegas memakai thermal clothes dan memakai topi kupluk untuk menghindarkan kami dari kedinginan.

Ms. Yusria dan Rennie menyambut kami di bandara dan mengajak kami naik bus menuju ke ACD Apartment di Dockland. ACD kepanjangan dari Accomodation Corporate Dockland.

Lingkungan apartment merupakan area Central Business District (CBD) seperti SCBD di Sudirman – Jakarta. Konsekuensinya, hidup disini relatif lebih mahal dibandingkan daerah lainnya, khususnya terkait biaya tempat tinggal. Selayaknya CBD, disini semua tersedia dan dapat diakses dengan mudah 👌🙂

Setelah pembagian kamar, seharusnya kami istirahat, namun saya dan Mbak Nia dan Puan malah jalan-jalan menyusuri pinggir laut “waterfront” dan berjemur menikmati matahari. Kalau diamati, waterfront mirip pelabuhan kapan-kapal di Ancol, namun disini lebih rapi dan sepi. Selanjutnya kami mengunjungi ATM dan mencoba mengecek balance kartu master card dan ternyata setiap melakukan query di ATM maka akan dikenakan charge AUD $2.5 – 3.5. Mahal ya, renung kami. Alhasil kami batal melakukan inquery di ATM, kami langsung berbelanja saja dengan kartu master card yang diberikan. Untuk kebutuhan sehari-hari, allowance diberikan dalam bentuk business card (berfungsi spt debit card dan emoney) sehingga dapat dipergunakan untuk berbelanja, naik tram, maupun penarikan tunai di ATM berlogo mastercard.

Perihal toko dan mall di sekitar apartment, ternyata ada mall yang disebut “the arcade” karena formatnya mirip Citos di Jakarta Selatan. Jadi disana ada banyak toko dengan beragam merk, kemudian di tengah mall ada area tempat duduk santai bagi pengunjung. Bicara mengenai toko-toko disana, hari ini semua toko menawarkan diskon yang beragam dan khusus untuk pakaian winter harganya relatif jauh lebih murah dari Jakarta.
Salah satu contoh fasion winter yang membuat kami bengong dan merasa menyesal membeli di Jakarta adalah…. disini sarung tangan hanya seharga AUD $2.5 dan thermal shocks hanya AUD $6. Last month di Jakarta sarung tangan biasa saja sudah ratusan ribu harganya 😱🧐😅

Melihat kenyataan tersebut, kami semakin semangat eksplorasi dan menemukan toko “closing down” sales, yaitu toko akan diskon 50% untuk semua barang karena mereka ingin menghabiskan stok. Akhirnya saya pun membeli garam, black peper, bawang kering, black currant kering, dan biskuit dari sereal. Total saya belanja AUD $26 san cukup bayar AUD $13.

Setelah berputar-putar beberapa blok, kami baru sadar bahwa toko klontong asia ada di sebelah mintu apartment kami hahahahaha. Kami masuk kesana dan semua barang yang kami butuhkan sehari-hari ternyata dijual disitu; mulai dari tahu, indomie, mie korea, satur-sayuran, bawang putih, bawang merah, cabai merah nyonya, roti bolu, lapis legit, beragam sambal, dan lain sebagainya. Mata kami berbinar dan merasa sangat bahagia 😁😁

Jam menunjukan pukul 16.00 dan makan malam pertama kami dilaksanakan di Oscar Table dengan menu:

  1. Minuman: jus jeruk, jus apel, air mineral
  2. Makanan ringan namun mengenyangkan: chicken wing, meet bal, bakwan jagung, fish chip, roti garlic, daun-daunan. Untuk menu vegetarian, saya mendapat tambahan makanan berupa nachos
  3. Makanan penutup: churos dengan saus coklat

Overall, makanannya enak… meski rasanya kurang lengkap tanpa saus tomat dan saus cabe hehehe.

Usai makan malam, kami keluar restoran dan hawa dingin menyerbu menelisik tulang belulang; dan kami pun menyerbu penghangat ruangan…. suhu di luar saat ini 7°C (feel like 4°C).

Di kamar, aku sendiri kedinginan teramat sangat, sehingga pemanas ruangan portable aku bawa ke ruang TV dan stel hingga maksimal sehingga saya nyaman menonton film kesukaan.

Di luar malam sangat gelap, sinar rembulan sangat indah, pukul 20.00 serasa pukul 23.00 karena sepi dan dingin. Aku merasa seperti di Jakarta, Jakarta yang sepi 🙂

Have good night world….terimakasih untuk hari ini, semoga hari esok lebih baik dan semakin baik, sehingga kami dapat menjalankan program pendidikan dengan maksimal 🙏😊

♡putu♡

Read Full Post »

Bagi pencinta wine, tentunya doyan mencoba beragam jenis wine dari beragam negara; dari yang paling murah hingga yang paling mahal.

Kali ini aku ingin share terkait hasil review atas red wine merk Lindeman’s.

Lindeman’s merupakan produk Australia, dan pendirinya bernama Dr Henry Lindeman. Dia memulai perkebunan anggur disana pada tahun 1843.

Saat aku memilih wine di toko Red & White, pertama aku akan melipir ke rak tempat wine yang “mudah dibuka tutupnya”. Meski sesungguhnya di rumah tersedia pembuka tutup botol, namun tetap aku memilih tutup botol ulir sehingga memudahkan hidupku 😁

Setelah beberapa menit, pandangan mengarah pada Lindeman’s dan setelah diteliti aku rasa jenis red wine ini lumayan cocok untukku di masa recovery habis sakit; alcohol rendah dan manis. Hmmm… yummy…. 🤤

Dari sisi harga, jenis red wine ini tidak terlalu mahal (compare to other red wine) sehingga lumayan pas jika ada yang ingin mencoba belajar minum wine. Jadi untuk pemula akan pas jika mencoba wine yang: alcohol rendah (agar tdk mabuk), harga relatif murah (agar tdk merasa rugi jika gak cocok), dan manis (jika belum mampu minum wine yang strong).

Ketika kucicipi wine ini…. hmmmm, memang yummy…. baru kali ini aku minum wine kaya minum air kelapa hahahahahahha glek glek gelegek 😅

Wine ini nikmat sebagai teman makan. Aku mencobanya makan pizza cheese dg wine ini. Kemudian makan roti mentega dan pringles. Memang nikmat ternyata. Manisnya wine mixed dengan citarasa makanan, menghasilkan nuansa yang nikmat sekali di lidah.

Di saat itu aku sangat sepakat dengan tulisan yg ada di belakang botol:

I do love this wine… Jadi ingat anggur racik waktu kecil (red wine asli Bali). Namun Lindeman’s lebih enak daripada anggur racik….

Ini cover depannya:

Demikian sekilas infonya…

🍷putu🍷

Read Full Post »

Blog review: my blog

In 2007, November 2007, I told myself to commit in writing stories… poets… knowledge in English. Then I built a blog in wordpress and name it: putusriartati.

After long way review, finally I chose blog theme entitled “misty look“. I fell in love at first sight with the theme, cause it is really represent my self (I thought at the moment). Then another ideas came out: When The Word is Yours. Another ideas came out again: Misty things make me confuse, only words can make it clear!

When I was thinking about it, for few minutes, right now I feel it all still valid and relevant and mysterious and lovely and beautiful, also unique. Yes, after 12 years…. it all still makes me enjoy my blog and see it as me, just me.

I searched in another blog, in fact… so many bloggers enjoy the “misty look” theme cause it is so unique and personal.

When we’re talking about blog or a place to write, to me the environment (in this case: the theme) becomes so much important because what I wrote represents my persona, so does the theme. I wish wordpress would keep this theme forever… 🙂

When talk about persona, I have one mission: share my thought (chosen one by me), in a hope that my experiences or my thought or my opinion or my way of life could inspire other to be better or to be more creative or to be more thoughtful.

Anyway, here is my blog’s capture…. just want to keep this as my documentation picture:

blog.png

♥putu♥

Read Full Post »