Archive for March, 2019

My march ☺

Today is 31st of March 2019 and I realized that human character is matter.

When talk about character, March really challenged me, start from small issues… big issues… new assignment… additional scope of work, etc. Then, the way I faced the situation really impact the output. Then I found the concept is totally valid “how you behave on something gonna represent in the output”.

First week, I was celebrating Nyepi (Saka new year) in Bali with family. I was there till Sunday (week 1). The week after (week 2), I was focused on preparation of Culture Event held by Bapekhin (Hindu Community in my company). The week after I was focused on new assignment: backup other department head for budgeting & planning processes as required by the regulators, which put me on lack-of-sleep status for 3 days in a row. On the weekend (week 3), I spent days in Toba – North Sumatera for company’s annual meeting. The week after (week 4), we held the Culture Event collaboration with Anand Ashram Foundation.

For the whole weekend in March I was focused on different things, important things, crucial things… and I feel, it all worth my focus.

Thanks to my mom and bli mangku danu, who always telling me about the concept “be thankful for all business-busyness, be grateful for the capabilities you have, eat well, be tolerance, remember to meditate before sleep, sleep well, dream well, think good-do good-be good and every thing gonna be well“.

In fact, all plans done well till now, even though there was “not nice moment” at certain point which made me rethink about life… On the other hand, I feel there was so much good experiences for me on this March. I got chance to apply Australia Award, chances for new assignments which enrich my skills (hard & soft skill), experienced new collaboration, meeting new people, got 30% discount for my new shoes today, chances to cook again, chances to love and beloved, etc. πŸ™‚πŸ’“πŸ’πŸ’–πŸŽΆπŸŒž

From all those, I only could say that hardship is real in life. And, I think it all depends on myself in term of how to recognize it: I could define it as a real hardship or merely just new way to improve myself?

March, thank you for everything… πŸ™πŸ™‚



Read Full Post »

Saya adalah sosok yang unik, khususnya ketika berhubungan dengan kata “tidur”. Saya tidur habis minum espresso, saya tidur pas sarapan di meja dapur, saya tidur pas upacara bendera, saya tidur pas berdiri di busway, tidur dengan mata setengah terbuka, dan tadi saya “tidur dalam kesadaran” saat 30 menit naik Grab Bike.

Lovely… isn’t it ?? 😁

Tidur bagi saya penting, sepenting charger HP kala ini. Tidur 3 menit, 5 menit, 10 menit… merupakan berkah yang mujarab.

Aku merasa lelah, namun jadwal yang aku susun banyak; shg aku pun harus menuntaskan jadwalku dengan efisien dan efektif. Jadwalku mulai dari menyelesaikan tugas utama di kantor, tugas tambahan, tugas sosial, jadwal upacara di pura, jadwal rapat di museum, dan tentunya jadwal tidur.

Lembur ampe tengah malam atau subuh, bagiku lumrah… krn sejak kecil saya suka mengerjakan tugas tengah malam, trus jd programmer jg doyan coding subuh-subuh, apalagi ketika menjadi tukang design sebuah aplikasi yang kompleks… pastinya otak saya berputar dari subuh hingga subuh lagi πŸ˜…

Nah, td malam saya lembur sampai jam 1 malam, dan berhasil tidur jam 3 malam. Kemudian saya setup alam bawah sadar untuk bangun pagi karena harus ke pura untuk upacara dan selanjutnya rapat dengan pihak external di museum mandiri.

Alhasil saya bangun jam 7 pagi dan semua persiapan ke pura berjalan lancar. Pura sangat adem, apalagi ditambah suara musik Bali yang dimainkan oleh Ibu-Ibu WHDI. Doaku khusuk dan meditasiku lancar….bernafas bersama wie danu dalam meditasi. I felt soooo goood and fulfilled and relaxing πŸ˜ŠπŸ’“

Usai sembahyang, ku pesan Grab Bike yang meluncur dengan cepat dan sudah berada di hadapanku setelah 2 menit. Bapaknya terlihat sangat baik dan sabar. Baru 5 menit kami berkendara, hujan angin mendera. Alhasil kami berhenti tuk berteduh.

Bapak yang baik hati itu menawarkan jas hujan, dan mengingat aku terburu-buru maka aku sambut niat baiknya. Diapun mengeluarkan jas hujan setelan dari bungkusnya dan menyerahkannya padaku. Wow… masih baru gressss… pak, saya meresmikan jas hujan bapak. Terimakasih sangat ya Pak πŸ™

Ku pun memakai jas hujan wana biru dongker yang hangat dan baru. Ku nyaman… ku relaks… dan ku pun tertidur di atas Grab Bike yang nyaman itu.

So nice….. πŸ˜΄πŸ˜΄πŸ˜΄πŸ˜‡πŸ˜ŒπŸ˜Œ

Akhirnya aku bisa tidur dalam kesadaran dengan relaks di atas motor. Pencapaian baru bagiku πŸ˜€πŸ˜Ž

Selanjutnya ku tunaikan tugas tuk rapat… namun as basic rule… aku pun ngopi dulu sambil makan roti enak di underpas kota tua. Nikmat….

Rapat berjalan lancar. Benar2 SUPER HAPPY & PRODUCTIVE, meski kakiku mulai gemeter dan perut mulai kruyuk kruyuk.

Kemudian ku ditemani anak kantor mencari rumah makan. Dan…. kami berhasil makan di salah satu restoran Cina tertua di Jakarta. Wenak rek… tp rada mahal hahahaha… Ada hal unik disini, yaitu lokasi restoran di gang sempit di belakang ASEMKA, kemudian orang antri di depan sambil Sang Owner mencatat pesanan kita, kemudian setelah kursi di dalam tersedia maka konsumen akan dipanggil. Juga, dapurnya itu ada di depan dan tempat makan konsumen ada di belakang.

Perut kenyang, mata sayu, langkah gontai… nah, itulah kami. Kami pun menuju halte busway tuk kembali pulang.

Terimakasih Tuhan… hari ini sangat indah. Ada 1 foto yang menjadi inspirasi hari ini, yaitu:

Today is lovely day πŸ™πŸ˜Š


Read Full Post »

Kisah Bali NO PLASTIC πŸ‘πŸ˜€

Bali… dari kecil saya mengenal Bali itu memang taat aturan, mulai dari aturan agama… aturan adat… dan aturan pemerintah. Meski memang belum 100% semua taat, tapi mostly sudah taat.

Saat ini pemerintah Bali menerapkan program bertahap NO PLASTIC, yang dimulai dari mini market yang tidak boleh menggunakan tas kresek sebagai pembungkus barang belanjaan.

In fact, mulai dari bandara ngurah rai hingga ke kampung di lereng gunung, semua mini market kompak “NO TAS KRESEK”. Keren pollll…. πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

Bagi yang lupa dengan aturan pemerintah tersebut maka jangan heran jika hidup akan semakin susah saat usai bayar di kasir. Jadi, selalu ingat bawa tas belanja – eco bag, sehingga belanjaan bisa dibawa pulang dengan mudah.

Berikut contoh penduduk yang lupa aturan pemerintah tsb, alhasil gotong-gotong pakai tangan semua belanjaan dari Indomart πŸ˜πŸ˜‘


Read Full Post »

Backward: Nyepi tahun 1998

It was 21 years ago when I was a junior high school girl, woke up in the morning… in other people’s home, and in the middle of rainy season… and also in the middle of hard moments. Then, at the moment I just felt the situation and fortunately I could still say “thank you to the universe”.

Nyepi as Saka New Year celebration is a sacred moment for myself, my family, and for all Balinese I do believe. Whatever situation we faced, I was tought by my ancestors that we have to celebrate Nyepi as the way it should be. As a child, when the situation “not normal or full of lack”, I had two choices:

  1. Do nothing
  2. Celebrate Nyepi as best as I could

Then I chose number 2.

At home, there only me + my brother + our dog. At that moment, all of us were “very cooperative and lovely creature”, we faced the situation together: Started from preparation for worshipping, then for Ngerupuk…. we did it by “our way” without losing the fundamental meaning. Also, we just did it with happiness… we proud and happy for ourselves because we did it, eventually. We celebrate Nyepi as the way it should be.

Actually, at that moment we realized that we just kids and when we pray, we only asked forgiveness in case we did the celebration improper. We also asked for the hard moments… wish it all passed soon.
But, unconsciously, which I do believe right now; that moment I had faced is really a leverage point for myself. Whatever I see now, all the achievements, I always feel that “Nyepi” moment is a cause for all of it.
So, every year, any where I’ve been… I celebrate Nyepi as the way it should be.

Read Full Post »

Balada anak penjahit πŸ€©

Ku adalah anak seorang penjahit yang sudah turun temurun, ku pun dibiasakan berpakaian yang dijahit keluargaku. Style… potongan… lekukan… bahan baku… semua ala gayaku. Ku diajarkan memilih tuk pilihan ku sendiri

Hmmmm, lalu kapan aku beli baju di luar ya?

Aha, baju batik di sekolah krn seragam πŸ™‚ … terus baju kaos ala anak ABG 😁

Ternyata kalau dipikir-pikir, betul juga kata orang bijak = semua berawal dari kebiasaan.

Nah, itulah yang terjadi padaku. Balada anak penjahit…. sehingga selalu memilih pakaian dan aksesoris yang “hand made” dan “personal”. Dan kebiasaan itu melebar pada akhirnya, tidak hanya berhenti di pakaian, namun sampai ke sepatu, perhiasan, jam tangan, tas, dan lainnya….. 🀭🀭😁

Ketika sesuatu dibuat oleh seorang expert, dengan design yang disesuaikan dengan diri sendiri, dan bahannya milih sendiri…. semuanya terasa lebih nikmat. Meski sangat sederhana maka akan sangat nyaman.

Selanjutnya, bagi yang terbiasa memakai pakaian atau aksesoris yang sepertinya kurang “personal”, coba deh sekali-kali pakai pakaian sehari-hari yang dijahit dengan pilihan diri sendiri (mulai dari bahan, design, dan siapa yg jahit). Pasti rasanya berbeda… ada sense of humanistic nya. Istilah orang bali = kalo pembuatnya sedang marah-marah saat menjahit maka bajunya terasa ndak enak; demikian pula sebaliknya.

So, I do really enjoy being “anak seorang penjahit”… ternyata all those experiences build certain sense in me, so I have my own creativities. Finally, I design my own boot, bag, wallet, name tag, etc…. PSA trademarkπŸ‘ŒπŸ™‚


Read Full Post »