Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2019

Di ujung Februari

Gemericik hujan dan dinginnya pagi membuatku terkesiap dan matapun berkedip… pikiran menelisik… “jam berapa ini… ohh, ternyata sudah subuh di ujung Februari”.

Angin sumilir terus menderu, rintik hujan pun tersapu, yang tertinggal hanya deru kendaraan dan cuitan burung gereja yang berbahagia karena terbebas dari basahnya hujan.

Selamat pagi dunia…. selamat menatap kehidupan di ujung Februari…. terus bermimpi dan bercita meski kaki tak henti melangkah.

Thank You Lord… for all these: all blesses and every single other thing. Harenam Harenam Harenam ๐Ÿ™๐Ÿ™

โ™กputuโ™ก

Read Full Post »

Kelas minggu: mengelola emosi jiwa & risiko

Akhir-akhir ini banyak kata “pasraman” ato istilah sekolah minggu yang melintas di telingaku; dan aku merasa akupun menjalani kelas minggu. Tema hari ini: mengelola emosi jiwa & risiko ๐Ÿ‘Œ๐Ÿ™‚

Dalam seminggu, kita bekerja 6 hari dan bagi yang sudah memiliki pasangan maka dalam 6 hari tersebut biasanya kehidupan “penuh toleransi”; dan dilengkapi dengan perilaku “tidak bertanya banyak” karena sudah banyak pikiran dan lelah.

Ketika hari Minggu tiba, saatnya merenungkan 6 hari yang sudah lewat dan persiapan menghadapi hari esok. Saat review, sering disertai bumbu perdebatan dan diskusi nye-nye dan ada kalanya berucap yang gak mutu. Tapi intinya, hari Minggu adalah moment untuk menumpahkan isi kepala dan perasaan… at least bagi kami hal ini penting untuk sharing our thoughts dan belajar untuk terus memahami satu sama lain.

Dari hasil review kami pagi ini selama 1 jam, kami menyadari bahwa tidak ada kata “berhenti” untuk belajar dan saling mengingatkan adalah sebuah keharusan karena kami menyadari bahwa kami juga manusia yang sering lupa.

Ketika senyum sumringah muncul karena lega, ide kreatif pun muncul. Kali ini ide kami: meni pedi di langganan lawas dengan kutek Cuccio Veneer warna biru toska.

Ketika tekan telp untuk book tempat, tettot…. terapist yang biasa handle saya ternyata sedang cuti. Langsung deg-degan dibuat karena untuk kutek tipe gel, apabila terapist tidak ahli maka bayar mahal drngan hasil mengecewakan. 

Kemudian pelajaran minggu untuk manage risk dimulai dengan cara:

  1. Tarik nafas pelan
  2. Mengingat pesan bli mangku bahwa “ingat untuk melihat sisi baik… “
  3. Trus pikiran baik muncul: meski terapist yang ada masih baru, namun mereka pasti penuh upaya untuk menjaga kualitas sehingga tidak ada komplain dan pelanggan seneng
  4. Akhirnya bergegas bersiap-siap untuk ke Nail Sanctuary

Dari keempat pemikiran tersebut, kemampuan menerima risiko (potensi kutek berantakan) dan kemampuan mencoba terapist baru menjadi lebih baik. Logikanya gini: terapist itu moving… gak ada yg stay for more thab 5 years, kalopun ada maka sangat amat jarang. Sama dengan hair stylist sebetulnya.

Alhasil tiba di mal dan tindakan dimulai dengan senyum pada security, kemudian aroma kopi membuatku senyum sehingga beli kopi + gula aren + bubuk kayu manis. Dan…. nasib baik menghampiri, meski terapist kategori baru, namun she is the best from all of them. My luck ๐Ÿ™

So, untuk ngasi hadiah atas pelajaran minggu kali ini… aku menyempatkan nonton film bagus berjudul Mia and The White Lion. Juga, aku ingin berterimakasih sama Bli Mangku Danu… terimakasih sudah sabar sehingga kita selalu bisa belajar bersama untuk hidup yang lebih baik ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿ’“

โ™กputuโ™ก

Read Full Post »

Langkah gontai pantang menyerah

Hidup di kota besar, kata orang enak. Hidup di kota besar, kata orang susah. Hidup di kota besar, kata orang menyeramkan.

Menurutku, hidup di kota besar membuat hidup makin complicated namun sarat makna.

Bulan purnama menyinari jalan di sebuah gang, klakson mobil dan motor bertalu, suara gendang ondel-ondel mengalun, teriakan pak ogah bersahutan, dan langkah gontai pengais rejeki menghiasi jalanan setapak. Itulah nuansa hidup di kota besar pada pukul 10-an malam.

Langkah gontai tidak selamanya gontai karena dihiasi dengan tatapan pantang menyerah dan senyum kepuasan “akhirnya hari ini berakhir, ku pun bisa tidur tenang”. Itulah kami… para pengais rejeki di kota metropolitan. Ada yang menyebut kami “kuli”, ada yang menyebut kami “pimpinan”, ada yang menyebut kami “bawahan”… namun pada dasarnya kami sama saja, manusia biasa yang selalu bersyukur atas sepiring nasi goreng di tengahnya malam.

Nuansa warkop adalah pelipur hati… hidup terasa lebih ringan tatkala mendengar guyonan warkop… pikiran pun terbang terbuka pada kenyataan bahwa “hidup lebih luas dari bidang gedung berbatas tembok”.

Hidup tidak terbatas pada orang berdasi atau berseragam… hidup juga diwarnai oleh mereka yang menjalani kehidupan diluar norma yang dianggap wajar. 

Kota besar mengajarkan banyak makna dan membuat hidupku lebih nyata. Ku pun bersyukur karena mereka semua membuatku tersenyum meski mukaku mengekeriput didera lelah…. orang tua tuna netra yang minta-minta di tengah malam, dia mengingatkanku bahwa hidup bisa berjalan jika disertai usaha. Anak-anak pengusung ondel-ondel mengajarkan bahwa “joy brings life”. Guyonan warkop mengajarkan istilah-istilah yang memudahkan ku bergaul tatkala jaman kian bergerak.

Itulah sekelumit kisah kota metropolitan yang sarat makna.

โ™กputuโ™ก

Read Full Post »

Movie review: O Mirzya

Sunday is a day when I give myself a chance to enjoy my hobby: watching movie and writing. Today I fulfilled them both. 

Before I review this movie, actually I found this coincidentally and I felt this movie is ok, then I spared 2 hours for it. In fact, it is worth my 2 hours.

======โ™กโ™กโ™ก======

The movie started with a blacksmith in a village doing metal things and the story begin. The scenes was about a princess in an old Indian Kingdom. Her name is Sahiba. 

Mirzya is a warrior. His life is all about bow and arrow. He fell in love with Sahiba, till one day they ran away at the night before Sahiba’s wedding day. There was a prince who will marrying Sahiba.

The scenes move to the modern life where two kids enjoy their morning while walking to the school. They are Monish and Soochi (Suchitra). They are best friend, in fact they love each other. Every morning Monish bring a sweet for Soochi, till one day he forgot to bring it; then he ran back home to take it. So, he arrived at school pretty late. 

In the class, when teacher asked Monish why he’s late, then Monish told him if he ran back home to take his homework. Then, the teacher wanted him to show the homework, also he requested Soochi as well. But, Soochi was telling the teacher if she hadn’t done the homework. Finally the teacher punished Soochi and Monish got angry; he want a revenge.

Soochi’s father is a police officer, and in the middle of the night Monish stole the gun from Soochi’s house. In the morning, Monish shot the teacher till dead. Monish entered the jail for children and Soochi leave the city.

After years, they met again. Soochi lives abroad and her fiance is a prince. Monish ran away from the jail and live in blacksmith’s village. He changed his name become Adil Mirzya. 

Love never dies, that is the lyrics of the song. Just like Monish and Soochi…. their love never dies. Finally Soochi found out if Adil Mirzya is Monish and she want to live with him cause she loves him. 

Life getting harder when they ran away. Just so similar with life of Mirzya and Sahiba. 

Actually, Mirzya reborn as Monish and Sahiba reborn as Soochi. They made a promise to love each other forever.

======โ™กโ™กโ™ก======

In my opinion, this movie is one of Indian best movies. The story flows from the beginning to the end and build a “realistic” experiences. This is lovely. I call it “realistic” because in Hindu we believe about Karmic cycles and this movie is all about it. 

Also, about the music. They combine the traditional tunes and modern, which become a very cool combination. The dance, the village’s ladies, the strength, the beauty… it all mixed and build a beautiful scenes.

Frankly, I couldn’t describe this movie much further. Just watch it and feel it, I think it will be much better than only read or talk about it. 

This is the link from youtube: https://youtu.be/vspShq6SJtM

I just feeling grateful after watching the movie. I experience all the story, right now on my current life. Life is beautiful and getting more beautiful when I saw what I believe… when I saw him, and I be with him. 

I only can share my gratitude to the universe ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

โ™กputuโ™ก

Read Full Post »

Survive is the only way ๐Ÿ‘Œ

Ketika hendak sakit dan tubuh terasa melemah, sometimes ingin nangis dan merengek-rengek kesakitan dan memelas. Basically, boleh saja sih…. namun akan garing sekali jadinya jika merengek-rengek pada angin sepoi-sepoi dan rumput bergoyang ๐Ÿ˜…๐Ÿ™„

Jadi intinya… mending tidur dan minum vitamin dan makan sehat yg banyak; instead of merengek-rengek nangis ndak jelas ๐Ÿ‘Œ๐Ÿ‘โ˜บ

Hal serupa sangat sering terjadi… hidup sulit, itu udah pasti. Namun apakah perlu kita ungkapkan kepada semua umat? Hmm…. I don’t think so, karena gak ada relevansinya juga sih… sama kaya merengek-rengek pada angin sepoi-sepoi tadi ๐Ÿ˜

Trus, apa yang perlu disampaikan tatkala ada orang yang bertanya hal personal, dan cenderung memojokan; padahal belum memahami detail kisah (karena mereka gak relevan memahami kisah sebetulnya) ?

Menurut beberapa arahan yang saya terima, berikut jawabannya:

  • Senyum ramah dan stay positive
  • Jawab normatif sambil senyum
  • Gak usah panjang lebar dibahas lebih lanjut
  • Kreatif cari ide utk bahas tema lain
  • Manage our psikologi shg gak desperado dan malah jadi ndak waras

Intinya adalah tetep survive sesuai dengan pilihan atau kata hati diri sendiri.

Kalau pelan-pelan saya mencerna ilmu sosiologi yang pernah saya terima, ilmu terkait behaviour manusia itu termasuk yang paling kompleks dan susah dipahami. Jadi, pelan-pelan saja menghadapi dunia… wong ilmunya sulit dipahami ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š yang penting: harus survive ๐Ÿ‘Œ

Demikian sekelebat pemikiran yang muncul tatkala mengunyah snack dari Solo dan nyeruput minuman dari Ausi.

Have great days for all and please enjoy this life, also please don’t forget to say THANK YOU ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜Š

โ™กputuโ™ก

Read Full Post »

My January

When 1st of February came, actually I forgot to write about my January. Frankly, January is always a hectic month for me, especially this year. Start from the first day till last day of January I had homework that needs to be done. That was OK and lovely ๐Ÿ˜„

One thing I’d experienced was when I forgot the “salary date”. It is every 25th of the month and I just forgot… and that was the first time I forgot about the date after 14 years of working ๐Ÿ™„๐Ÿ˜…

My January was great and there was some great things I’ve experienced, such as:

  • Movie, music, picture, and other “art matters” are more meaningful for my life when I could share the beauty of it to others; so it could make the others feel better
  • After 1 year plus having daily vitamins, I found out that my health is getting better and if I got health problem then it was minor. Thank you Bapak Herman for always telling me to drink the vitamins
  • Again, vipasanna meditation really helps us; especially when life getting tougher and both of us (me and bli mangku) were very busy. When we sat and breath calmly, our body relaxed and we could see things clearer (including the problems) and somehow we just could understand it better. Also, we could see the positive side of the issues, so we could face it with gratitude. 
  • This month, I realized that pray is the best gift . A physical gift at birthday sounds very nice, but I found that a pray with pure heart is the best gift
  • It was feel so nice and exciting when finally we arrange a trip together; considering bli mangku’s schedule is so tight and he would be fully occupied along this quarter
  • When I mingled with my team whose age less than 25, I found that they also enjoy the 80’s style. At the moment I’ve been thinking about what we (gen X and Y) call “millenial style”, which mismatch with their preference at some points. Some times we tried to change our style, so we could fit with the millenial’s; but in fact, the “real millenial” themselves, they really enjoy the gen X’ and Y’ style

Today is 3rd of February and I’m gonna experience so much new wonderful things along this month which enrich my life. Somehow I just believe in it ๐Ÿ™‚

Along January, there was some good quotes from bli mangku which made me survive better and happier (he wrote it all in FB page = mutiara dharma). Even though sometimes we couldn’t communicate by voices, but our thought was connected us even more. Wie, thank you so much… matur suksma ๐Ÿค—๐Ÿ˜š๐Ÿ’“

โ™กputuโ™ก

Read Full Post »

Serabi

Pagi ini ku bangun pagi, dan pilihan banyak melintas di benak: tidur, renang, jalan kaki, ato makan?

Alhasil pilihan jatuh pada:

  1. Tidur hingga suara jam weker berkoar-koar memenuhi relung kepala dan sanubari
  2. Makan sarapan pagi ala kadar
  3. Jalan kaki dengan tambahan tujuan mulia: mewujudkan cita2 sohibku si Denny tuk makan serabi notosuman

Alhasil, ku pun menunaikan sarapan singkatku dg bli mangku, kemudian kami melangkah menelusuri jalan sesuai arahan supir becak. Kami pun melangkah dan melangkah dan terus melangkah…  hingga bingung ntah arah kemana. Alhasil kami bertanya lagi dan bertanya lagi. Setelah 4 blok panjang terlewati, aroma pandan… aroma kelapa menembus hidung. Nikmatnya…. ternyata disanalah toko Serabi Notosuman yang sangat terkenal di Surakarta – Solo. 

Dengan sigap ku pesan beberapa kotak dan bayar. Lumayan juga harganya, utk edisi original seharga 26 ribu untuk sekotak isi 10, kemudian utk edisi campur antara original dan coklat menjadi 27 ribu sekotaknya, dan 28 ribu untuk sekotak edisi coklat. Agar keinginan terpenuhi semua, maka kubeli 3 kotak edisi campur.

Setelah keluar dari toko, kami pun tengok kanan… tengok kiri… kemana harus melangkah. Tiba-tiba pikiran cerdas muncul: wie, lihat google map. 

Pas click “direction”, ternyata tokonya dekat dengan hotel hahahhahahaaa. Lalu ngapain tadi pagi kami sibuk2 nyasar dan nanya ke semua orang ya???

Mungkin kami terlalu ingin menikmati kota Surakarta hingga lupa dengan kemajuan teknologi ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿ˜

O ya, ternyata tokonya ini udah buka dari jam 7 pagi, dan yang menarik adalah…. mereka dapurnya ada di luar sehingga pengunjung bisa melihat mereka memanggang serabi dan menikmati aroma duniawi dengan puasnya โ˜บโ˜บ

Demikianlah kisah serabi hari ini… ternyata dari survey pada 4 orang, semua memilih bahwa edisi original lebih nikmat hehe ๐Ÿ˜Š

Kalau menurutku, yang original terasa enak karena rasa dan aroma pandan, kelapa, dan beras itu masih kental sehingga kenikmatan yang asli sangat terasa. Namun kalau yang coklat, mostly rasanya seperti martabak coklat karena aroma coklat menutupi aroma dan rasa pandan dan kelapa. Intinya: aku suka dua-duanya sih ๐Ÿ˜…๐Ÿ‘Œ 

Salam serabi!!

โ™กputuโ™ก

Read Full Post »