Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2019

Lunch time thought: survive as newbie

Ms P: Girls, tolong buat memo untuk perihal kemarin ya?

One of the girls: Okay

Ms P: inget nanti review the details sebelum submit ke saya ya

One of the girls: ok, siap

The other girl: hmmm… apa yang dimaksud oleh Ms P ?

One of the girls: maksudnya ini loh… harus dibeginiin..

The other girl: hmmm, gitu ya… oke oke… baru saya ngeh… ternyata harus begitu ya.

============

Nah, itulah sekelumit pembicaraan ringan yang selalu terdengar di dunia kerja setiap harinya. Selalu ada “kebingungan” bagi para pendatang baru. Dalam kisah di atas, “The other girl” adalah pegawai baru yang baru lulus dari bangku kuliah. The only clue yang bisa aku share adalah how to minimize the confusion?

Ketika bicara pekerjaan, menurut pengalamanku selaku orang yang bekerja dari kecil, pengetahuan itu tidak selalu menghampiri kita. Most of the time aku sendiri yang mengejar pengetahuan tersebut. Clue no.1: aktif mencari tahu dan ketika pengetahuan datang… sambutlah dengan suka cita.

Bagiku, tidak ada pengetahuan yang tidak berguna, aku percaya bahwa suatu hari semua yang aku pelajari akan ada masanya untuk digunakan. Hal ini yang membuatku berupaya untuk terus menerus melatih setiap pengetahuan yang aku terima. Contoh sederhana adalah menulis. Waktu SD aku belajar menulis, kemudian Bapa memintaku untuk rajin mengarang guna mengasah kemampuanku menulis, selanjutnya ku pun rajin menulis tentang apapun… hingga saat ini. Dampak dari hal ini adalah aku bisa dihandalkan dalam menulis untuk urusan banyak hal. Clue no.2: terus asah pengetahuan.

Ketika kita memasuki sebuah lingkungan baru atau komunitas tertentu, ada kalanya kita terlalu fokus pada skill yang selalu digunakan oleh lingkungan tersebut. Contoh ketika di bangku kuliah mengambil jurusan elektro atau teknik nuklir; ada kalanya tidak terlalu ingat dengan pelajaran sastra, sejarah, pancasila, seni & budaya, memasak, pramuka, atau hal lainnya. Padahal ketika kita memasuki dunia kerja, most of the time kita dituntut untuk memahami banyak hal. Dari sekian banyak lulusan teknik dari universitas ternama, berapa banyak dari mereka bercita-cita untuk memiliki karir yang moncreng dan menjadi pimpinan? jawabannya: banyak sekali.

Oleh karena itu, lulusan dari univ ternama atau terbitan dari komunitas tertentu tidak akan serta merta membuat kita hebat. Clue no.3: menjadi specialist is OK, namun tetap bisa menjadi sosok generalist ketika dibutuhkan.

Itulah 3 clues yang bisa aku share siang ini. Dengan terus melakukan ketiga hal tersebut, ketika kita memasuki dunia kerja kantoran di usia 23 tahun maka semoga pengetahuan selama 23 tahun tersebut mampu membuat survive di lingkungan pekerjaan. Namun menurutku, ketiga hal tersebut valid untuk semua level kehidupan…. hal ini yang membuat kita menjadi “experienced person”.

Semoga bermanfaat dan happy Monday πŸ™‚

β™₯putuβ™₯

7d9bb18a-0280-4abf-a739-2d6053631255_560_420

Advertisements

Read Full Post »

This morning is unique

Today is Monday.

Actually, hari ini aku merasa pagiku unik, kisah dimulai:

  1. Aku merasa udara so soft and calming
  2. Aku menemukan musik meditasi, kombinasi Indian flute dan Tibet bowl
  3. Ku pun merasa musik itu sangat pas jika diputar saat ku ada di Candi Dieng, menghadap sang surya d pinggir danau yang mengelilingi candi
  4. Ku rasa waktu berjalan lambat, namun ternyata jam sudah menunjukan pukul 07.15 am, hingga ku langsung lari mengejar ojek yg sudah menanti
  5. Ku tiba di kantor pukul 07.25 am dan melihat antrian masuk lobby yg mengular, ku pun pasrah “pasti telat”
  6. Ku putuskan tuk beli kue dulu sebagai teman kopi bali-ku tuk sarapan
  7. Ku mengantri dan angin sepoi menerpaku dengan ramahnya… ku tersenyum damai
  8. Pas di antrian, waktu terasa lambat meski ku lihat orang2 bergerak normal
  9. Pas tiba d mesin absen, wow… pas pukul 07.30 am (aku tidak telat…  yeayyy)
  10. Ku lihat antrian naik lift yang lebih panjang lagi, hingga ku putuskan naik tangga. Tanpa kusadari, betul2 aku kaget… tiba2 aku udah di lt.3, padahal rasanya baru naik bbrp anak tangga
  11. Trus aku buat kopi, aku mengaduk kopi terbalik. Baru sadar setelah bbrp lama mengaduknya
  12. Ku pun baca Bhagavad Gita dengan berdoa terlebih dahulu dan yg terbuka ayat 7.29 dan 7.30

Today is lovely day and I’m gonna really grateful for this 😊🌞

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Kisah sebuah vacuum cleaner

Ketika mendengar kata “vacuum cleaner”, serta merta hidupku terasa cerah dan lebih mudah hehehehhe πŸ˜…

Sebagai anak yang lahir di jaman 80-an, ku saksikan pergerakan jaman dari masa ke masa untuk proses pembersihan debu; mulai dari sapu made by bulu ayam, lap kering lap basah, trus pakai kertas yg dibasahin, hingga ku lihat di TV sebuah alat yang bisa menyerap debu.

Mengingat ku dibesarkan di desa, setiap minggu ku hanya bisa menonton di TV beragam alat canggih yang mulai diperkenalkan ke masy untuk bersih-bersih, juga harga yang dibanderol saat itu mahal sekali…. ku pun hanya bisa bercita-cita. Setelah nonton TV, ku pun kembali ke rutinitas tuk bantu orang tua membersihkan rumah dengan gaya tradisional, yaitu ngepel lantai dengan kelapa…. yuhuuuuiii… licin dan berkilau lantainya, meski bercucuran keringat dlm prosesinya. Bersih-bersih jendela kaca dengan kertas dan beberapa jenis lap, hingga kinclong clong clong… 😊

** Menulis hal ini, ku teringat dengan seorang sahabat di kos saat kuliah yang alergi debu. Gaya tradisional ku di atas, totally gak cocok dengan dia. So, vacuum cleaner supposedly help her so much.

Jaman terus berlalu, namun dalam benak-ku tetap melekat bahwa ku ingin membersihkan rumah dengan cara mudah. Maklum lah ya… kadang-kadang saya menjadi orang rajin dengan penuh syarat. Salah satu syaratnya, perkakas harus OKEH 🀭🀭

Hingga tibalah masa memasuki tahun 2000 an dan teknologi semakin moncreng. Beragam perkakas diciptakan, kembali lagi ke kisah awal, salah satu perkakas yang semakin canggih adalah vacuum cleaner; ada model yang ukurannya segede tabung gas yang besar hingga hanya segede rice cooker 1 kg. Harganya pun variasi dan semakin murah…. dan semakin mudah dicari.

Hal ini pelan-pelan membuat kisah hidupku yang “rajin” menjadi semakin berkelanjutan 😁 , khususnya ketika beberapa tahun silam ku putuskan membeli sebuah vacuum cleaner kecil di Best (nama toko electronic). Meski kecil, kotaknya besar juga… alhasil nunggu bala bantuan jg untuk membelinya. Matur suksma wie danu ya… πŸ™πŸ˜ŠπŸ€­πŸ˜

Kemudian, dengan bergabungnya si mungil dalam hidupku, masa-masa weekend ku lebih damai… at least upaya membersihkan rumah tidak sampai mengganggu jam tidur, jam memasak, jam membaca, jam nyuci, jam nonton, dan jam meditasi.

At this level, technology really help me. Thank you so much to Mr. Hubert Cecil Booth from the invention… dan terimakasih untuk semua pihak yang telah membuat vacuum cleaner makin nyaman dipakai πŸ™πŸ™πŸ‘πŸ‘πŸ˜Š

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

An “effortless compassionate” light worker πŸ™‚

When I was born, your other soul was born too

The other soul which guides you to be you

You, the one I see now, the one who always share the light

Life, people said it is tough and unfair, but you, the one who always share gratitude

You, a company of the unseen from the misty lake; from where they’re watching you

You, an “effortless compassionate” light worker πŸ™‚

Happy birthday wie danu…. please always share the light, light of our souls. 

πŸ’—gegπŸ’ ~ 24 Jan 2019

Read Full Post »

Ketika Memasak is part of meditation πŸ™‚

Waktu ku kecil, sering menemani ibu dan nenek masak dan banyak ada aturan detail. Meski aku sering teledor, namun setelah sekian sering… akhirnya aku bisa masak; mulai dari masak nasi dengan berbekal rumus matematika. Selanjutnya masak sayur pakis gagal pas kemah, hitam legam kacau tak termakan πŸ˜…

Tapi seperti pepatah, rajin membuat sukses. Setelah rajin berlatih, mulai dari hal sederhana, alhasil aku bisa masak… meski untuk diri sendiri dulu. Ketika SMA kesenangan beralih ke kue… alhasil dengan dukungan Ibu Andras tercinta, setiap minggu aku bisa puas buat kue hehehehe. Terimakasih ibu sayang πŸ€—πŸ€—

Beberapa bulan terakhir, ketika ku kembali menyusun program: memperhatikan diri sendiri dengan cara memasak utk diri sendiri; bli mangku danu mengingatkan bahwa memasak adalah salah satu media meditasi. Why?

Nah, intinya sih dia menjelaskan panjang lebar… namun aku baru “ngedong” ketika melakoninya. Jadi, ketika memiliki kepribadian seneng meneliti dan analisa, maka hal2 seperti ini pun akan dianalisa 😁

Pengamatan kembali aku lakukan saat aku masak krn “terpaksa”, baik karena idealisme atau hal lain; ternyata setelah diingat2 hasil masakan ku aneh dan mostly kacau. Kemudian perenungan dilanjutkan tatkala aku happy pas masak, meski sederhana maka ludes habis dengan nikmatnya. Trus trus ketika ingin masak utk bli mangku, ku pun grogi krn muncul rasa tidak percaya diri… eh bener aje masakan sempet aneh. Tp untung bisa dihabisin sama bli mangku 🀭

Semua kisah itu kemudian menjadi bahan kajian lebih lanjut, sehingga aku sepakat dengan teori bli mangku yaitu masak is part of meditation. Adapun jawaban yang aku temukan, basically practical:

  • Aku butuh makan sehat dan aku tahu kesehatan tsb bisa aku pahami jk masak sendiri. Jadi, meski lelah sepulang kantor… namun ketika masuk dapur selalu berupaya pikiran tenang dan fokus dg kegiatan memasak
  • Aku senang sekali masak untuk bli mangku dan pastinya ingin masakan yg nanti disuguhkan enak dan cocok, sehingga sebelum masuk dapur maka aku berupaya tenang… relaks… percaya… fokus… berdoa dan meyakini bahwa masakan akan nikmat πŸ™‚

Dari contoh tersebut, ketika ku ingin menghasilkan masakan yang pas sesuai harapan, maka aku harus berupaya memfokuskan pikiran dan relaks dan tenang dan yakin dan ikhlas dan sabar. This is a meditation πŸ˜ƒ

This is interesting, isn’t it?

Kalo nenek ku masih hidup dan baca artikel ku ini, pasti mereka ketawa ketiwi sambil ngucap: paham kan sekarang kenapa nenek masak banyak aturannya hehehehe… 😊

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Love connection

Two minutes ago I read a quote: your grandmother’s pray always protects you.

I do agree with that quote, very much agree.

When I was a child, my grandma prayed for us alot and we learn how to pray from her. And I do believe that she prayed about something regarding to us, the grand children. She never shared it, but from time to time I saw there is something that always related to her in my life.

In Bali, esp in my place, actually we learn that the after life is a new beginning and also all ancestors still taking care of us… they also pray for us, for our well being. 

If we talk about someone I love, like my grandma…my parent…my fiance, we will talk about “connection” — something unseen that connect us for many generations of life. 

The connection will make me feel that all of them are always living around me, they will never let me be alone, they always accompanying me in every moment, watching me, encouraging me, and love me. I think, this what wise man call: love doesn’t have limitation. 

Eventhough my grandma passed away, my father as well, my mother living far from me, and my fiance living mobile with radius 0 – 1000 km…. I could feel they are always with me. When I was in the university,  I couldn’t sleep along the night cause feel unwell; then suddenly my father called me and asking: what happen to you, are you alright?

Since then  I know that my father was always accompanying me, in every step I have take. Till now, from above… from the heaven.

Thank you mbah, bapa, biang, wie danu…. thank you for taking care of me. Thank you for always available in my dream. Thank you for the conversation. Thank you for everything. I love u all πŸ€—πŸ€—

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Kisah sebuah tongkat

Suatu hari d musim semi di salah satu kota d Jepang, ku diajak oleh sahabat tuk jalan-jalan ke pasar. Mereka menjual souvenir, beragam produk-produk kecil, juga barang-barang bekas layak pakai seperti kimono, boneka, dan yg lainnya. 

Saat itu adalah musim semi tahun 2006.

Ku berkeliling dan berkeliling… dan ku menemukan sebuah benda yg sangat memikatku: sebuah tongkat.

Ku pun berjalan mendekatinya dan ku sapa sang penjual, dan akhirnya ku beli tongkat itu. Para sahabat pun heran: kenapa putu membeli tongkat ?

Saat itu, ada satu insight atau deep feeling atau a vision yang membuatku merasa tongkat itu harus kubeli dan aku yakin one day dia akan sangat bermanfaat.

Tahun berlalu… ku jalani hari… hingga masa tiba tatkala ku harus berpisah dg tongkat tsb. Tahun 2011 kira-kira… ku rasa bahwa Ibu gede di Kedisan Kintamani membutuhkan tongkat tersebut. Ku titip ke Bli Mangku dan ku berpesan pada si tongkat agar bisa menjaga Ibu gede… krn itulah caraku berterimakasih pada Ibu, krn dia sudah merawat bli mangku sejak kecil.

Kini… ibu sepertinya tidak lagi membutuhkan tongkat tsb karena sudah lebih banyak di tempat tidur. Ku lihat, Bapak lah yang menggunakan si tongkat. Kembali ku menyapa si tongkat dalam rasa… tolong jaga bapak.

Tongkat itu memberi kisah tersendiri… menjembatani kisah… menjadi souvenir indah pengingat masa dan wujud kasih sayang. 

Terimakasih tongkat…. 

Ibu gede dg tongkatnya… a bit blur krn foto udah lawas bangets ☺

β™‘putuβ™‘

Read Full Post »

Older Posts »