Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2017

The winter is coming…

Ada yg rajin nonton Games of Throne? 

Disana sering tersebut istilah “the winter is coming”, istilah di masy Indonesia sering menyebut “badai datang dan pasti akan berlalu”. Pertanyaannya: bagaimana cara kita melewati “winter” atau “badai” shg kita selamat melaluinya??

Sembari sarapan kopi Asiang Pontianak, seorang “advisor” mengingatkan kembali tentang sebuah artikel yg mirip slogannya Winston Churcill berikut ini :

Menghadapi Badai Jangan Kalah dg Elang

*Ride the wind*

Tahukah bahwa burung Elang selalu tahu bahwa gejala-gejala badai akan datang menghampirinya sebelum badai itu benar-benar menghantam atau melandanya.

Oleh karenanya, ketika burung Elang merasakan bahwa badai akan datang, ia biasanya akan terbang ketempat yang agak tinggi lalu selanjutnya menunggu badai tersebut datang.

Ketika badai tersebut datang, sang burung tersebut dengan gagahnya membentangkan sayapnya sehingga angin membawanya terbang membubung tinggi di atas badai yang sedang bergelora.

Burung Elang tidak pernah lari dari angin badai yang menerpanya. Dengan berani ia menunggunya dan menghadapinya. Ia akan menunggangi angin badai tersebut (RIDE THE WIND) yang akan membawanya ke tempat yang lebih tinggi yang tidak akan bisa dicapainya bila menggunakan tenaganya sendiri. 

Pesimis mengatakan Masalah / Tantangan itu adalah bahaya yang harus dijauhkan dan dihindari. Optimis mengatakan Masalah / Tantangan itu adalah sebuah Kesempatan baik, oleh karenanya Masalah / tantangan perlu di hadapi dengan kepala dingin. Sebab bila Masalah / Tantangan itu dapat dikuasai (baca: ditunggangi) maka kita akan naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Ada satu hal lain yang perlu kita ketahui. Menghadapi badai pencobaan dalam hidup kita bukan berarti kita tidak perlu berusaha atau kita pasrah saja tanpa usaha. Lihatlah burung Elang. Apakah setelah ia tau bahwa badai akan datang, ia akan tetap berada di tempat (Zona) yang nyaman seperti dahan pohon dan terus bertengger disana?

Jawabannya adalah TIDAK. Ia akan bergerak menuju tempat yang lebih tinggi bukan? Hal itu dilakukan *SEBELUM* badai tersebut akhirnya datang menghantamnya. Kunci disini adalah AWARENESS atau kesadaran diri untuk bersiap menghadapi badai di dalam hidup.

Persiapan Mental, Emosional & Spiritual juga fisik perlu terus dilakukan agar kita siap dalam menghadapi badai pencobaan di dalam hidup ini. 

Bersiap menerima kondisi terburuk di dalam hidup ini seperti: apa yang terjadi jika orang kita kasihi tiba-tiba meninggalkan kita? Bagaimana jika tiba-tiba kita kehilangan pekerjaan kita, dsb, dsbnya akan sangat menolong jika suatu ketika Badai itu datang menuju kita.

Banyak orang tidak mau mempersiapkan diri menghadapi badai tersebut. Bahkan berpikirpun tidak mau rasanya. Maka tidak heran jika badai itu sungguh-sungguh datang menghantam kita. Kita tidak siap untuk menunggangi angin pencobaan tersebut.

*_“Kites rise highest against the wind – not with it.”_* Winston Churchill

======

Well, hidup itu memang ditakdirkan penuh dg persoalan. Namun seberapa cerdaskah kita utk menjawab dan menyelesaikan persoalan tsb. Bli JD selalu mengingatkan utk:

  1. Lihat persoalan secara pragmatis dan komprehensif
  2. There must be fundamental reason kenapa sesuatu itu terjadi, so pahamilah
  3. Terima dan resapi dan jangan menolak persoalan
  4. Positive and yakin bahwa setiap persoalan pasti ada clue dan jawabannya
  5. Dekatkan diri dan belajar pada Beliau yg membuat persoalan…

Demikian.. semangat!!! 🙂

-putu-

Advertisements

Read Full Post »

Yoga – ala Ni Putu S.A :)

Satu jam menunggu teman yg sedang berlatih “yoga” di Pluit Village Mall ternyata mengingatkan ku akan masa kecil. Disini banyak anak kecil, anak remaja, bapak2, dan ibu2 yg penuh ceria berlatih yoga. Ku amati mereka… dan ku pikir: think that “yoga” makes their life better. 

Beberapa tahun terakhir sangat trend di kalangan pekerja dan mid-class society about practising “yoga” di gym. Why just now? Ya mungkin sudah tiba saatnya everyone back to the old style ~ improve life quality through “yoga”. 

Then, do I join yoga class? Actually not. Karena aku pikir… my daily life is about yoga. Here’s “yoga” ala Ni Putu S.A:

  1. Bangun pagi: buka mata, tarik nafas, dan ucapkan OM sambil menghembuskan nafas pelan… dan tersenyumlah! 🙂
  2. streching dalam kondisi terlentang (regangkan tangan, badan, dan guling2 spt kucing); kemudian ucapkan: terimakasih semuanya… saya bisa bangun dg sehat dan bernafas. Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan!
  3. Bergegas mandi dan saat cuci muka lakukan totok wajah utk melancarkan peredaran darah muka dan merangsang fungsi otak kanan
  4. Saat berhias, dengarkan dan gumamkan lagu2 rohani…. aku meyakini: jika saat berhias disertai nuansa positive maka akan melatih tangan jd lihai dan aura jd bagus. Gak heran para tukang rias handal sering puasa sblm merias
  5. Berdoa pagi disertai praktek pernafasan…. balancing body, mind, and soul; sehingga keluar dari rumah sudah siap mengisi hari dengan beragam hal
  6. Di kantor: ketika tdk ada jadwal rapat maka upayakan jalan kaki sambil mengatur pernafasan di bawah sinar matahari. Badan hangat dan otak adem. Jika pas kerja ketemu banyak masalah dan puyeng maka keluar pergi ke toilet dan lakukan peregangan: mulai dari peregangan badan, leher, dan wajah (dengan selalu disertai pengaturan nafas). Setelah itu dijamin segar lagi dan siap menghadapi dunia
  7. Sore hari, upayakan pulang kantor jalan kaki shg semua otot bergerak plus pengaturan nafas… sambil memandang kanan kiri kemacetan penuh kewajaran, bukan hal yg mumet dan menyusahkan (melatih positive lense). Termasuk tersenyum pada tukang ojek, satpam, pengemis, etc….hal ini refresh my mind and soul.
  8. Setelah mandi latih pernafasan, lakukan gerakan stretching yang “dirasa nyaman oleh tubuh” plus pernafasan…. jd menurutku tidak ada satu gerakan yg saklek yg harus selalu dilakukan. Semua sesuai kondisi dan kebutuhan tubuh… so, just let it flows 🙂
  9. selamat tidur yg nyenyak dan jangan lupa ucapkan OM sebelum memejamkan mata

So, that’s all… Trus, dari mana aku belajar semua itu? 

Jawabannya: dari rumah sejak kecil, tatkala kami memilih melakukan “gerakan khusus utk penyembuhan” daripada minum obat ketika flu atau sakit perut ato sakit kepala ato gak bisa tidur ato susah fokus belajar. 

Kemudian aku menyadari semua hal itu akan bermanfaat ketika disertai pernafasan yg tepat. Pantes sejak kecil disuruhnya belajar pernafasan terus.. meski ngambek mumet n kabur2an, tapi bersyukur berhasil tetep menekuni hingga kini. Thanks ya Bapa, my bros and bli mangku JD. You all are awesome! 

Demikian… jika berminat, silahkan dicoba “yoga” ala saya… sebetulnya dg ingat bernafas dan menyadari aliran nafas, bagi saya itu sudah latihan yoga 🙂 

have a good day dan selamat berlatih yoga in a real life!

 -putu-

Read Full Post »

suatu malam Ayah bertanya: cita-cita mu apa?

ku jawab: menjadi polwan. (namun setiap malam ku pandang langit dan bercita-cita menjadi astronot; dan setiap melihat ke halaman aku bercita-cita membuat program canggih sehingga pencet tombol dan halaman rumah bisa berubah mjd “sesuatu”)

itulah balada masa kanak-kanak ku… yang selanjutnya Ayah hanya berkata: sekarang selesaikan PR dan inget berdoa sebelum tidur. Ya, itulah kisah kami setiap malam… lovely moment, isn’t it? hingga akhirnya aku masuk SMA dan meninggalkan rumah dan melihat beragam dunia dan profesi 🙂

ended-up menjadi wanita karir ternyata banyak suka dan tentu ada dukanya. Aku ingin membahas “duka” yang aku sebut sebagai CHALLENGES. Namun sebelum lebih lanjut, ada beberapa hal yang perlu diingat ketika memutuskan menjadi wanita karir (baca: wanita karir berprestasi):

  • Wanita karir adalah manusia. Jadi kalau laki-laki yg baca tulisan ini maka bayangka diri anda menapaki karir dan seperti itulah wanita karir; sama spt anda.
  • Wanita tetaplah wanita. Jadi tetap ada hak dan kewajiban sesuai kodrat dan tujuan dilahirkan sebagai wanita
  • Lokasi tempat tinggal dan culture ternyata sangat berpengaruh; meski katanya sudah global… namun tetap local memberi peran yg besar

so, ketiga hal ini semua memberi CHALLENGES yang besar; baik dalam hal mengelola tuntutan kantor, tuntutan keluarga, tuntutan budaya, dan tuntutan diri sendiri. then, apa yang harus dilakukan? apakah pasrah menyerah tanpa inisiatif (1), atau melawan dunia (2), atau kooperatif terhadap ketiga hal tersebut di atas (3)?

aku memilih opsi ke-3, kooperatif!!

kalau direnungkan, berat sih nomor tiga itu… tapi aku yakin semua ada solusi. sesuai tulisan sebelumnya (Terimakasih Tuhan), Beliau sangat baik ngasi semua kesempatan; jika ada isu, pasti Beliau sudah menyediakan solusi. tinggal aku bisa mengerti clue-nya atau tidak (mirip waktu pramuka jawab teka-teki sandi yg macem-macem itu). ya, I am a scout girl anyway hehe.

langkah yang aku lakukan utk opsi ke-3:

  1. mengenali nafas. bagiku, dengan mengenali nafas/merasakan nafas/mengikuti aliran nafas… maka pelan-pelan aku bisa mengenali diriku. oooh, ternyata aku hidup; ternyata aku bisa nafas; ternyata aku memiliki organ2 yg dilalui darah; ternyata aku wanita; ternyata aku kerja di sebuah perusahaan; ternyata aku diberi tanggung jawab; ternyata aku seorang anak; ternyata aku seorang kekasih; ternyata aku hidup di sini;  ternyata….. nafas itu sumber pemahaman akan banyak hal; tat kala lupa bernafas (apalagi berhenti) maka banyak hal yang sulit dipahami
  2. rajin mendengarkan nasihat. tidak ada salahnya mendengarkan, karena itu hanya nasihat dan belum tentu relevan dengan kehidupan ku… namun nasihat itu sumber “clue”
  3. banyak baca buku beragam genre. hindari membaca buku satu atau dua genre saja… namun selalu upayakan membaca apapun; biasanya disanalah “clue” bersembunyi
  4. menjaga “positive lense”. istilah lainnya: selalu berpikir positive… karena sesuai teori dan kata orang bijak: ketika kita positive maka akan muncul “clue”
  5. rajin ngobrol dengan diri sendiri. inilah sumber dari banyak “clue” karena alam bawah sadar lebih bisa melihat banyak hal ketimbang alam sadar kasat mata ini

setelah menjalankan 5 aktifitas itu pun belum tentu sukses menjalani opsi ke-3; but at least berusaha…. kata orang bijak lagi: keberuntungan mendekati dan menjelma pada sosok sosok yang semangat berusaha 🙂

stay positive, stay optimist, and enjoy… yeayyyyy!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

-putu-

 

 

Read Full Post »

Siang ini mengalun music online yg diputar secara acak by system. Yang pertama oleh Shawn Hook yang berjudul Reminding Me dan ada satu nasihat hari ini yg ‘reminding me’ untuk don’t take things for granted. Trus dilanjutkan lagu Praying oleh Kesha. Trus dilanjutkan lagu Please don’t Go oleh Joel Adams. Trus dilanjutkan lagu It’s Gotta Be You oleh Isaiah. By the way, Universe always kind to me… lagu, artikel, berita, gambar, iklan, good quote, etc… selalu mengingatkan ku untuk menjadi individu yg positive dan optimis 🙂

Nasihat yang aku dapat siang ini adalah ingatlah utk menghargai kebaikan orang lain meski orang tersebut tidak mengungkapkannya lewat kata-kata. Ya, ini nasihat yang selalu nonjok dan membuat termenung. Akhirnya, review diri sendiri menjadi kewajiban rutin yg harus dilakoni. Aku percaya: menjadi yang terbaik pasti merupakan hasil dari latihan dan rajin-rajin mengikuti ujian dan review terus-menerus… karena hidup ini adalah sebuah proses.

Ada masa aku dilingkupi orang yang SUPER sabar dan pantang menyerah untuk tetap menjadi SUPER sabar; terus ketika aku “lupa”, saat itulah aku membutuhkan nasihat yang mengingatkan bahwa “Putu, ingat: orang itu sudah SUPER SABAR dan please don’t take it for granted”. Okay…. I think so…. okay then… I’ll review myself. Review myself!!! again and again and again.

Hasil dari sekian kali review, memang ada pro dan kons dari beragam perspektif. Jika memandang dari perspektif Egoisme maka aku akan mendefinisikan sesuatu selalu berdasarkan pandanganku dan keinginan dan kebutuhan ku; apakah aku diuntungkan atau aku akan susah atau aku akan bahagia. Namun kalau dari perspektif “selalu Mengutamakan orang lain” maka aku akan mendefinisikan sesuatu selalu berdasarkan pandangan orang lain. Alhasil, mencari titik tengah adalah prilaku esensial; orang bijak menyebutnya dengan “kebijaksanaan”. Jadi kedua pihak harus bijak sehingga terjadi mutual benefit — sama sama bertoleransi utk kebaikan bersama.

So, how to “not take things for granted”  dan bias tercipta “mutual benefit” ?? (pertanyaan yg selalu mengiang di kepala)

Menurutku, beberapa cara yang bisa dilakukan dan sedang saya lakukan dan semoga tidak lupa utk dilakukan di masa depan:

  • Rajin mengucapkan “terimakasih”, for everything… anything from whoever.
  • Mendengarkan dan fokus
  • Memberikan yang terbaik dalam setiap situasi
  • Terbuka untuk diskusi
  • Being positive and optimist

Demikian kisah siang ini…. terimakasih banyak untuk semuanya. Now I wanna enjoy my luch ~ indomie goreng hehe 🙂

love

-putu-

 

Read Full Post »