Feeds:
Posts
Comments

Archive for August 9th, 2017

Hari ini seorang sahabat menyampaikan request agar saya menulis mengenai “bagaimana mengelola keuangan pribadi dengan tetap melaksanakan tugas-tugas keagamaan”. Saya pun berpikir bahwa ini tema yang menarik, mengingat banyak orang yang sering bingung mengelola keuangan; apalagi dihadapkan pada kebutuhan keagamaan yang relative banyak juga.

So, here are some of my views dalam mengelola keuangan pribadi, semoga bisa memberikan ide bagi para pembaca:

  1. Membuat balance sheet keuangan pribadi. Untuk tahap awal, buat saja yang sederhana seperti berapa besar (a) gaji rutin setiap bulan (b) pengeluaran rutin bulanan (c) tabungan atau investasi bulanan (d) perkiraan keperluan adhoc bulanan spt biaya untuk odalan atau galungan atau nyepi (termasuk slot untuk dana punia). Secara teori umum, skema yang wajar adalah pengeluaran itu 30% dari pendapatan, tabungan atau investasi sebesar 30%, dan sisanya untuk adhoc
  2. Biasakan berpikir detail. Ketika bicara uang dan angka, tidak bisa dipungkiri harus berpikir detail sehingga skema pendapatan dan pengeluaran tetap bisa terjaga. Jadi, rajin-rajinlah melakukan review atas balance sheet di point (1). Sering kali kita harus merenung mengenai potensi pengeluaran sebulan kedepan bahkan tiga bulan kedepan. Istilah jaman sekarang adalah smart spending. Sebagai bayangan, saya selalu melakukan review 2 kali dalam sebulan, yaitu setiap tgl 27 (setelah gajian) dan tgl 10 (setengah perjalanan dari hari kerja menuju tanggal gajian berikutnya). Dengan demikian, apabila kita boros di 15 hari kerja pertama, maka kita harus sedikit mengencangkan ikat pinggang di 15 hari kerja berikutnya
  3. Santai. Hidup fleksibel dan apa adanya ternyata sangat mendukung kesuksesan pengelolaan keuangan. Jadi, jangan pernah terpaku hanya pada satu solusi yang membebani keuangan; namun biasakan selalu mencari alternative. Contoh: untuk ke pura biasanya naik taxi dengan ongkos PP (Sudirman – Rawamangun) bisa 100 ribu, namun dengan naik trans Jakarta maka bisa hanya 7 ribu. Contoh lain misalkan minum kopi, apabila biasanya beli kopi segelas di starbuck seharga 50 ribu, akan lebih murah jika beli kopi bubuk atau kopi sachet starbuck dan kemudian seduh sendiri
  4. Cerdas dalam memilih barang dan menggunakan produk Bank atau financial institution lainnya. Jangan lekas tergoda promosi yang menjerumuskan kita pada cicilan yang mungkin bisa mengganggu balance sheet. Pilihlah barang yang benar-benar dibutuhkan, dan cari toko yang menyediakan promo, termasuk promo dari Bank tertentu apabila menggunakan kartu kredit yang mereka terbitkan. Contoh: apabila anda penggemar sepatu Clarks, saat ini di Pacific Place – SCBD disediakan khusus Clarks store untuk barang diskon; plus banyak program cicilan dari Bank ternama. Selanjutnya, saat ini Bank sedang punya trend bermain di fasilitas “poin”, manfaatkanlah! setiap kita berbelanja dengan kartu kredit maka akan mendapat poin, selanjutnya poin tersebut bisa dipergunakan untuk berbelanja lagi. Namun, perlu saya ingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakan Kartu Kredit agar balance sheet tetap terjaga; jangan sampai bablas… 🙂
  5. Rajin berderma. Tidak ada ruginya kita berderma, karena ini sesuai dengan aturan universal alam semesta bahwa apapun yang kita miliki adalah titipan. Dengan demikian, saya sarankan untuk selalu menyediakan slot anggaran untuk ber-dana punia. Apabila tidak sanggup besar, maka cukup semampunya saja. Sebagai pengalaman pribadi, semakin rajin saya berderma untuk hal-hal yang tepat maka rejeki so far selalu mengalir; at least kebutuhan saya terpenuhi. Bentuk dana punia bisa bervariasi seperti memberikan punia uang atau pakaian ke pendeta, punia uang ke pura, membantu buku untuk anak-anak yang tidak mampu sekolah, sharing makanan ke pengemis, bahkan senyuman untuk orang yang sedang sedih merupakan sebuah derma yang sangat besar

Menurut saya, lima hal tersebut di atas sangat applicable dalam mengelola keuangan pribadi sehingga kebutuhan bersosial masyarakat dan beragama tetap lancar dan aman. Memang banyak teori yang canggih-canggih mengenai management keuangan, namun belum tentu kita bisa menerapkannya dengan maksimal apabila kita tidak disiplin; disiplin memonitor balance sheet, disiplin mencari alternative baru, disiplin update trend di pasar, dan disiplin terhadap komitmen pribadi (merupakan yang paling utama).

Demikian… semoga bisa membantu 🙂

love and peace,

-putu-

Advertisements

Read Full Post »

Terima kasih Tuhan :)

Sudah 34.5 tahun aku menghirup oxygen di sebuah planet yang bernama bumi. Banyak kisah yang sudah terjadi, ternyata itu sebuah scenario yang sudah di design sejak dahulu kala; bahkan sebelum aku berwujud sel. Semuanya berjalan as designed dan membuatku bertanya “so, what’s next”

Jika tanpa design, mungkin aku sudah lama meninggalkan planet ini… banyak peristiwa terlampaui dan aku masih selamat.

 Waktu kecil, karena berkat-Nya aku “gagal” terlindas bus; karena berkat-Nya aku masih sehat sehabis jatuh dari pohon; karena berkat-Nya aku masih berjalan setelah sekian banyak pengalaman sakit kaki; karena berkat-Nya aku masih berpikir dan menulis untuk menyampaikan aspirasi dan opini tentang planet ini dan sang penciptanya; karena berkat-Nya aku masih menyapa mereka yang aku lihat, mereka yang mengeluarkan suara dan di dengar oleh telingaku, mereka yang menyentuh penuh sayang; karena berkat-Nya aku masih mengunyah nasi setelah banyaknya isu terkait gusi dan gigi yang aku alami; karena berkat-Nya aku masih berjalan dan makan normal setelah sekian banyak sakit perncernaan yang aku alami; karena berkat-Nya aku hidup bersama orang tua yang memahami liarnya duniaku; karena berkat-Nya aku menyaksikan bagaimana proses untuk meninggalkan planet ini oleh kedua nenekku dan ayahku; karena berkat-Nya aku masih survive di dunia kerja dan lingkungan yang katanya kejam; karena berkat-Nya aku belajar martial art, agama, IT, Akuntansi, Risk, Treasury, Finance, dll… karena dengan semua itu akhirnya aku memahami pola-Nya; karena berkat-Nya aku mencintai; karena berkat-Nya aku masih menerima cinta dari makhluk yang ada di planet ini.

Begitu banyak pertolongan yang Dia berikan agar aku tetap hidup sesuai design-Nya. Ntah apa yang akan terjadi lagi; entah rencana apa lagi yang masih ada dalam logbook-Nya. Dia sangat baik karena memberi kesempatan kepadaku untuk menyampaikan aspirasi dalam doa; selanjutnya Dia akan me-review dan menyampaikan apakah aspirasiku disetujui atau tidak. Jika Dia setuju dan sesuai dengan design-Nya maka pasti akan segera disetujui. Namun jika masih perlu banyak pertimbangan maka akan banyak proses yang harus aku lalui untuk persetujuan tersebut; bahkan harus disertai pembuktian dan subsidi silang agar design awal tidak terganggu.

Apa pun, sekecil apa pun, yang sudah aku lewati… semua itu sebetulnya hal baik (meski secara kolegeal sering dianggap tidak baik). Logikanya, Dia sangat baik maka apa pun yang Dia berikan adalah sebuah kebaikan; apapun yang aku lalui memang itu hal baik untukku untuk pemenuhan design-Nya. Setiap kali ragu, aku bebas menyampaikan aspirasi dan bertanya pada-Nya; any time any where. Dia menjawab lebih cepat dari dari whats-app atau telpon canggih; namun Dia juga bias menunda lebih lama dari waktu perjalannya sloth.

So, hal dasar yang aku lakukan sembari jalan adalah bekerja dengan baik; berdoa dengan baik; tersenyum; yakin bahwa semuanya adalah proses untuk yang terbaik; belajar; menulis; olah raga; berusaha melakukan apa pun yang bisa aku pikirkan dan lakukan dengan sebaik mungkin yang bisa aku lakukan

-putu-

Read Full Post »