Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2017

Ku bangun pagi, ku bereskan tempat tidur dan bergegas bersiap tuk hari ini: hari Rabu yg penuh keceriaan dan kebahagiaan 🙂

Menelusuri jalanan kota Jakarta yg padat dan penuh semangat, kembali aku ngobrol dengan pohon dan angin mengenai kehidupan ini.

Aku: pohon, sering aku termenung dan ingin menjadi seperti dirimu… kuat dan sabar menghadapi semua prilaku alam

Pohon: hmmm… sesungguhnya aku juga ingin sepertimu, mjd seorang manusia.

Aku: kenapa?

Pohon: aku memang tangguh dan terlihat sabar menghadapi prilaku alam semesta. Namun, tahu kah dirimu bahwa aku sering menangis karena aku tidak bisa berteriak mengatakan “tidak” ketika mereka menyakitiku… memaku diriku… memangkas rantingku… memetik buahku… dan aku tidak bisa berlari berpetualang seperti dirimu

Aku: baik pohon. tapi boleh kah aku belajar darimu sehingga aku bisa kuat dan sabar sepertimu?

Pohon: dengan senang hati 🙂

Kembali angin sumilir menerpa wajahku dan otomatis ku tersenyum simpul. Angin… dirimu selalu menemaniku dan menyapa kesendirianku. Angin hanya tersenyum dalam hembusan lembut tanpa wujud 🙂

Aku, pohon, angin… semua merasa tidak sempurna karena memang kami tidak bisa sempurna seperti yang kami bayangkan. Yang bisa kami lakukan adalah belajar satu sama lain… pohon belajar utk aktif “protes” dan “berteriak” — seperti diriku yg suka ngomel dan teriak-teriak. Angin belajar tersenyum — seperti diriku yg suka senyum. Aku belajar kuat dan sabar dari pohon… belajar untuk halus dan keras seperti angin.

Waktu aku kecil, sesungguhnya aku tidak tahu istilah “sempurna”; namun seiring berjalannya usia dan aku mulai belajar mengenai satu hal-dua hal- tiga hal- dan banyak hal; akhirnya aku men-design sebuah gambar yang aku sebut “sempurna”. Meski sesungguhnya aku tahu kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Contoh misalkan: sempurna versi Tuhan itu di level 10 yang berdasarkan hukum alam, nah… versi sempurnaku ada di level 6 karena berdasarkan hukum idealism dan otak kiri. Ini pun belum tentu bisa aku realisasikan.

Singkat cerita, semua design yang aku buat adalah aspirasiku tuk alam semesta; in case ada yg matching dengan rencana alam. Namun, hari ini aku pun merasa sempurna:

  1. Aku bangun dengan sehat dan masih bernafas dan tersenyum
  2. Aku punya air utk diminum dan utk mandi
  3. aku punya dupa utk sembahyang
  4. Aku punya sepatu yg relevan utk ke kantor dan baju yg sudah di setrika dan siap pakai
  5. Aku punya uang utk bayar ojek ke kantor dan beli sarapan kue pastel idolaku
  6. Aku bisa menghirup udara dan merasakan angin… menyapa pohon sepanjang SCBD
  7. Aku bisa selamat sampai di kantor dan hanya telat 3 menit
  8. Aku bisa sarapan sambal ngopi Kopi Asiang – Pontianak… yeayyyy; plus aku bisa meraciknya dengan pas (air termos 200 ml + 30 second di microwave)
  9. Aku bisa melihat pegawai yg tersenyum ramah, penuh optimism, dan positive
  10. Aku bisa nulis blog ini dengan lega… karena kerjaan bisa di handle dengan baik
  11. Aku ada wi-fi sehingga bisa akses internet dengan baik
  12. Aku dilingkupi oleh orang-orang yang menyayangiku… orang-orang yang dengan sabar mendengarkan semua aspirasiku; bahkan di tengah malam gelap gulita

 

So, apapun itu, mungkin inilah yg disebut kesempurnaan utk-ku; meski out of my design time-frame. Namun mungkin inilah design alam semesta. Secara alam semesta juga sepertinya menganut konsep mis-match 🙂

-putu-

Advertisements

Read Full Post »

Never afraid of dreaming

Dreaming, build dreams, survive to fulfill the dreams… such a very lovely words in my mind since I could remember. I think I was born in this world because purposes, a purpose at least. Then, I’ve been thinking hard: what is the purpose of my existence?

No body could give me proper answer, then I decided to free my soul and mind to develop dreams – as far as it could take. One day, I looked into the sky and I talked to the stars and start develop my dreams. Big dreams (based on my definition).

When I was a child, I argued and convinced people around me to support me to achieve my dream (aspiration); fortunately they gave their full supports. But now, when I become an adult, when I have to live alone; there was moment when I think I could bring other people fulfilling my dream. Unfortunately they can’t make it. They just can not make it. I was confused and re-think about my dream, whether it was out of sense or not.

Then, it all good experiences for me. I know that every human being has their own dream and I cannot just ASK them to join me; I need to share the common benefit at least. In fact, all those experiences brought bad impact to me for a while, I was afraid building dreams (again).

I’ve thinking a lot, fortunately I love to think (a lot). I found something in my night dream… I found something in my meditation… I found something when I talked to the wind… they told me to “NOT AFRAID OF DREAMING”. Finally, right now, I’m gonna keep writing my dreams…. and grateful for whatever the achievement status.

Dreams make me alive and keep me focus on things; that’s why developing “a proper dreams” become very essential. Based on my experience, it would be perfect if I build my dreams after some series of meditation; after I talk to myself and see the true of me.

I wanna live my life, wish a better happy life. But again, I only could live this life… but still I could dreams… and wish my dreams come true.

-putu-

Read Full Post »

dreaming Ladakh

Build dreams… is one of my hobbies and since years ago I was dreaming to visit Ladakh. Why Ladakh?

I see Ladakh as a mysterious place and very unique. Besides, it would tells me a lot about “the north life” and the way they’re living this world.

Some people said: it is too far from Indonesia and too dangerous.

One day, I’m gonna be there… share my gratitude for the priceless blesses 🙂

-putu-

Read Full Post »

Hari ini terasa “nano nano” dan selayaknya “soda gembira” yang bikin nyes… teng… nikmat… wow.. semriwing… asem… pedes… fiuh fiuh … namun tetep ditelen dengan penuh kepuasan.

Pas buka buku menjelang rehat malam, terlihat sebuah kalimat ditulis besar dan bold seperti judul: setiap kejadian yang kita hadapi adalah pertanda dari sesuatu.

Okay!

So, kehidupan ku hari ini pertanda apakah???

Ya, mungkin sesuatu… sesuatu yg aku gak tahu hehehe. Namun kata si buku: kita harus berpikir positif yaitu dengan tetap berpikir positif saat menemui hal hal yang tidak kita pikirkan sebelumnya.

Lagi, menurut si buku: segala sesuatu yang terjadi di depan mata kita merupakan tanda tanya. Tentu saja tanda utu bukanlah hal yang buruk untuk kita. Apakah yang hendak diberitahukan kepada kita? Otak kananlah yang mempersepsikan tanda itu untuk kita. Jika kita mau mendengarkan otak kanan maka kita dapat memperoleh jawaban akan makna tanda tersebut. Untuk mendapatkan jawaban akan makna tersebut hanya otak kanan yang dapat melakukannya.

wow. Hmmm…. otak… otak kanan… kamu dimana? Tlg kasi saya jawaban… @_@ ~_`¡

Kalo direnungkan (semoga ini otak kanan yg ngomong), “sesuatu” yg merupakan makna dari hari ini adalah:

  1. Kalo ada kerjaan, kerjain aje.. pasti selesai dg baik dan happy
  2. Kalo ada unek2… sampaikan saja dg jujur, lugas, dan terbuka
  3. pantang menyerah… semua pasti ada jalan…. krn dunia ini bersifat relatif… sekarang biru, esok merah; sekarang merah, esok kuning
  4. inget utk BERNAFAS krn hanya dia yg membuatku hidup
  5. puasa itu bagian latihan berterimakasih bukan pundi2 yg akan dipertukarkan

Yah, semoga otak kanan saya mau terus ngomong… dan otak kiri bisa mendengarnya…. waras waras waras!!! #_#

​-putu-

Read Full Post »

Sang pendeta di bukit berkabut

Angin sepoi berhembus; sang surya menyeruak; di hamparan bukit berkabut.

Se-sosok indah bersimpuh; menatap cahaya kemilau; dan terpejam matanya; dan membumbung jiwanya… menghadap sang surya.

dia, kemurnian jiwanya; terpancar berbaur dengan cahaya sang surya; membagi kebahagiaan pada alam semesta; burung, kupu kupu, angin… semua menyapanya dg senyum.

dan ku pun terkesiap, saat dia berbalik dan memandangku dg senyum penuh makna


-putu-

Read Full Post »

Hari Saraswati, satua dan tutur tua

Ketika menarik nafas pelan utk balancing jiwa dan raga, sumilir angin berbisik dan hati terasa sejuk. Suara air pun terdengar bergemiricik. Terbang pikiran ke alam masa lalu tatkala mbah me-satwa dan selalu bercerita tentang masa lalu dan dunia lain yang kami sebut tutur tua.

Di hari Saraswati, ku duduk bersimpuh melepas derita, berpasrah akan kehendaknya… spt satwa dan tutur tua yg disampaikan mbah waktu ku kanak-kanak. Meditasi pun terpecah ketika ku dengar pe-dharmawacana menyebut kata “kegiatan ekskul kita laksanakan utk menyeimbangkan otak kiri dan kanan anak anak didik kita”. Ok… otak kanan.

Kembali ku terpejam, terngiang lg tutur tua mbah tentang Beliau, tentang alam semesta, tentang makhluk berwujud dan tak berwujud, tentang buta buti, etc… oh, ternyata itulah caranya mbah melatih dan membangkitkan fungsi otak kanan ku; dengan satua dan tutur tua.

Mbah tidak pernah menjelaskan otak kanan dan otak kiri; namun dia hanya tak henti henti nya menyampaikan satua dan tutur tua. Semua itu… yang pada akhirnya aku pahami sebagai bekal utk mempertajam otak kiri dan membangkitkan fungsi otak kanan. Imaginasi, khayalan, kesabaran melihat kenyataan, bayangan berkelebat, visi… semua itu bagian dari latihan utk menumbuhkan fungsi otak kanan.

Secara teori dan penelitian di buku-buku, salah satunya tulisan Dr. Shigeo Haruyama, dengan berfungsinya otak kanan maka fungsi otak menjadi sempurna (mengingat selama ini manusia didominasi otak kiri). Dengan berfungsinya otak kanan secara maksimal maka ingatan masa lalu (sekitar 5 juta tahun ke belakang) akan bisa diingat dan kesadaran/kebijaksanaan menjadi optimal.

Dengan demikian, tepatlah sudah cara mbah mendidikku waktu balita dulu… karena dia tahu saat ku injak kan kaki di bangku sekolah maka otak kiri ku yg akan dikembangkan. 

Terimakasih Mbah…. engkau pasti tersenyum dari alam sana ketika melihatku menulis tentang mu 🙂

Note: satua ~ cerita tentang macem2, banyak yg menyebut dongeng; tutur tua ~ nasihat bijak


-putu-

Read Full Post »

Vasudhaiva Kutumbakam

Hari Minggu, tatkala banyak orang menghabiskan waktunya berlari pagi saat car-free-day, kali ini aku memilih untuk bangun pagi dan bergegas menuju Pura Aditya Jaya – Rawamangun. Aku sangat bersemangat karena aku akan mendengarkan ilmu pengetahuan yang aku yakini pasti bermakna utk kehidupan. Ya, betul sekali.

Pada hari Minggu – 13 Agustus lalu, di Pura Aditya Jaya diselenggarakan dharma wacana dengan speaker adalah Prabu Darmayasa. Umat sangat antusias terlihat.. terbukti dari penuhnya area dharma wacana dan banyak yang berdiri karena kekurangan kursi.

Dalam dharma wacana dan diskusi yang berlangsung selama 2 jam, ada banyak sekali yang dibahas; namun aku summary menjadi 11 key point s.b:

  1. Inti dari dharma wacana tersebut membahas konsep Vasudhaiva Kutumbakam. Vaudha = ibu pertiwi, bumi, dunia; Iva = sesungguhnya; Kutumbakam = keluarga besar
  2. Setiap insan harus bisa harmoni di dalam diri, untuk selanjutnya secara otomatis akan harmoni dengan entitas di luar dirinya
  3. Dengan demikian, setiap insan harus membangun kesadaran. Salah satu caranya adalah dengan mengucapkan “OM” sebelum tidur dan pada saat bangun tidur (jangan selalu memburu handphone saat bangun tidur.. 🙂 )
  4. Selain itu, membangun kesadaran juga dilakukan saat makan; istilahnya = me-yadnya pada sang diri. Caranya = saat menyuap makanan lakukan dengan tanpa suara dan ucapkan doa “Om Swaha” setelah menelan makanan (untuk 5 suapan pertama)
  5. Untuk meraih cita-cita yang besar, baik cita-cita duniawi maupun rohani, maka kita harus mantap dari hal-hal yang kecil, seperti aturan makan dan tidur pada point (3) dan (4) di atas
  6. Setiap hari, rajinlah melakukan japa Gayatri Mantram karena itu adalah Maha Mantra. Dengan melakukan japa Gayatri dengan benar maka secara bertahap karma buruk kita akan terkikis (sebagaimana disebutkan dalam kitab suci)
  7. Kebaikan itu tidak perlu ditunda. Jadi, apabila ingin melakukan tindakan mulia maka lakukan sesegera mungkin. Jangan menunda!!
  8. Dalam Maha Upanisad ada disebutkan “Ayam Bandhur – Ayam Neti” yang berarti “ini saya… itu dia…”. Orang yang berpikiran “hitung-hitungan” seperti itu (ini keluarga saya dan itu bukan keluarga saya) maka dia adalah orang yang berpikiran sempit. Jadi, untuk harmoni maka semua harus guyub
  9. Setiap insan harus bertutur kata dan berkomunikasi yang santun agar tercipta harmoni; dimulai dari scope terdekat di keluarga atau persahabatan
  10. Sebagai umat Hindu, harus saling menjaga dan bersatu untuk menjaga keharmonisan; baik keharmonisan internal maupun di ranah Negara
  11. Sebagai manusia ciptaan Tuhan, marilah kita berusaha melakukan yang terbaik dan biarlah Dharma yang menuntun kita

Demikian pemahaman yang saya dapatkan. So…. so… great; powerful reminder 🙂

lovely.!.

-putu-

Read Full Post »

Older Posts »